Idiom Populer di Dunia Showbiz, dari Diva sampai Sekuter


Idiom Populer di Dunia Showbiz, dari Diva sampai Sekuter

idiom
TABLOIDBINTANG.COM -

PADA tahun ‘80-an, kita mendengar istilah 'bom seks' gara-gara Eva Arnaz berani tampil telanjang dada dalam film Intan Perawan Kubu. Atau juga The Big Five yang disandang lima serangkai Roy Marten,  Yati Octavia, Robby Sugara, Doris Callebaute, dan Jenny Rachman. Dua dekade terakhir, kami mendapati beberapa istilah populer di kalangan selebriti. Kami memilih beberapa dari sekian banyak istilah untuk Anda.

Selebriti

Selebriti berasal dari bahasa Inggris, celebrity. Artinya, merayakan. Kata ini diadopsi ke dunia artis dan menjadi sangat populer. Artis menjadi sama dengan selebriti. Penyanyi, bintang film, pemain sinetron, sutradara, penulis novel, model, sampai korban kekerasan istana negara tetangga pun disebut selebriti. Istilah ini mencuat sekitar 1996. Lalu mendapat “pengesahan” ketika infotainment sering menyebut mereka yang kerap muncul di layar kaca sebagai selebriti.

Sekuter (Selebriti Kurang Terkenal)

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul pengkastaan penyanyi, pemain sinetron, dan bintang film. Memasuki tahun 2000, Dewa, Padi, Sheila on 7, dan Jamrud disebut band kelas A. Selebihnya, dianggap kelas B dan C. Lima tahun sebelumnya, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, Onky Alexander, Lulu Tobing dianggap pesinetron kelas A. Mereka yang dianggap kurang terkenal disebut sekuter.

Sekuter juga sering muncul di televisi. Tak jarang, pendatang baru memanfaatkan mereka yang kurang famous untuk mendongkrak popularitas. Misalnya, hendak meluncurkan film baru lalu beredar isu operasi payudara atau marah-marah di muka umum karena honor belum lunas. Begitu filmnya rilis, si sekuter dengan enteng berkata, “Honor sudah dilunasi di rekening saya kemarin sore, kok.”

“Oh, pas dengan jadwal rilis film, ya Mbak?” tukas seorang wartawan.

Meski sering muncul dalam pemberitaan, tetap saja sekuter susah “naik kelas”. Remah-remah gosip seperti honor belum lunas, adegan si anu telanjang beredar di internet disebut gosip setingan, agar film atau albumnya laris.

“Halah, itu paling cuma gosip setingan, kan minggu depan filmnya rilis,” kata seorang reporter dalam jumpa pers di Setiabudi, Jakarta.
“Sudah tahu itu berita setingan, kok masih diliput?” timpal reporter lain sambil bercanda.

Diva

Ini dia “kasta” tertinggi dalam dunia showbiz. Diva! Sayangnya, siapa yang masuk kategori diva masih samar. Definisi diva sendiri kurang jelas. “Secara sederhana, diva adalah penyanyi wanita yang sudah mumpuni,” cetus seorang pengamat musik, dalam satu kesempatan. Diva dalam sejarahnya adalah penyanyi opera yang mahir bernyanyi dalam lima bahasa. Ketika Kris Dayanti menggelar konser tunggal 2001, publik terpana. Sekonyong-konyong muncul istilah diva. Tak lama kemudian beredar isu, Titi DJ dan KD saling kritik. Kabar lain menyebut keduanya berebut gelar diva.

Ketika Konser Diva Sea (Sea: South East Asia-red) digelar November 2008, Indonesia diwakili Titi DJ, Vina Panduwinata, dan KD. Muncul protes, “Memangnya, Ruth Sahanaya belum pantas disebut diva?” Pertanyaan lain, berapa album yang harus dirilis agar penyanyi bisa disebut diva? Apakah diva harus bisa mencipta lagu? Apa diva harus selalu mendapat platinum setiap rilis album? Jika popularitas diva menurun, apakah gelar diva bisa dicabut? “Diva itu pemberian masyarakat. Kalau saya dianggap tidak lagi berinovasi, masyarakat berhak memberi apresiasi sebaliknya,” ucap KD saat merilis buku.

Stripping

Istilah ini menjadi populer setelah sinetron berhasil “menyejajarkan diri” dengan program news. Bayangkan, drama yang biasanya kita tonton sekali seminggu mendadak muncul layaknya koran harian. Sejak itu muncul istilah stripping, yang diartikan sinetron harian. Awalnya stripping terjadi setahun sekali di bulan puasa. Lalu, Liontin mengubah segalanya. Semua sinetron tampil setiap hari. Televisi tak ubahnya radio. Programnya dari hari ke hari selalu begitu.

Setelah itu muncul istilah raja dan ratu stripping. Gelar ini diberikan kepada bintang-bintang stripping dengan rating selalu tinggi. Naysilla Mirdad-Dude Harlino menerima gelar ini berkat chemistry mereka dalam Intan, Doa dan Karunia, serta Cahaya. Belakangan Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar mendapat gelar sejenis berkat keberhasilan Cinta Fitri menumbangkan reputasi Tersanjung sebagai sinetron dengan episode terbanyak. Stripping juga memopulerkan lagi istilah kejar tayang.

Dulu istilah ini muncul di dekade ‘90-an saat sinetron Bella Vista, Senja Makin Merah, Benang Emas, atau Janjiku ditonton jutaan orang. Sejak itu, bintang sinetron dengan rating tinggi susah diwawancara, memilih fokus pada satu judul sambil berkata, “Karena sedang kejar tayang, saya ambil satu judul dulu. Kalau terlalu sering muncul, nanti pemirsa bosan.”

(wyn/gur)