Apa yang Salah dari Panasonic Gobel Awards dan Bagaimana Memperbaikinya?

PGA-14
TABLOIDBINTANG.COM -

PANASONIC Gobel Awards, ajang penghargaan bagi insan TV, digugat insan TV sendiri.

Trans TV dan Trans 7 (tergabung dalam satu grup usaha, Trans Corp. Milik Para Group) memboikot penyelenggaraan Panasonic Gobel Awards 2011. Alasannya, pihak Trans TV dan Trans 7 merasa diperlakukan tidak adil saat penyelenggaraan malam puncak Panasonic Gobel Awards.

Aksi boikot ini tentu mengganggu kredibilitas ajang penghargaan tersebut yang seharusnya menaungi seluruh stasiun TV di negeri ini.

Pasti ada yang salah dengan penyelenggaraan Panasonic Gobel Awards sampai ada aksi boikot segala.

Muncul anggapan kalau Panasonic Gobel Awards (PGA) sangat menganakemaskan stasiun TV di bawah payung MNC Group (RCTI, Global TV, MNC TV).

Sebab, sejak beberapa tahun terakhir pemenang PGA kebanyakan didominasi oleh tiga stasiun TV tersebut.

Dari data pemenang PGA tahun lalu, misalnya, RCTI memboyong piala paling banyak. Dari 24 kategori, RCTI memenangi  11 di antaranya, baik untuk kategori acara maupun individu (misal, pembawa acara dan aktris).

Tentu, mungkin saja, memang acara dan bintang-bintang dari RCTI yang paling banyak mengumpulkan SMS pemirsa. Namun, kemenangan yang demikian besar tetap layak dipertanyakan.

Untuk ajang PGA tahun ini, acara-acara dari stasiun TV MNC Group juga paling banyak dapat nominasi. Tengok saja nominasi Drama Seri Unggulan: Putri yang Ditukar (RCTI), Dia Jantung Hatiku (RCTI), Cinta Fitri (SCTV), Kemilau Cinta Kamila (RCTI), dan Safa dan Marwah (RCTI). Kita patut bertanya, ke mana Taksi, Nada dan Cinta, Arti Sahabat, Cinta Cenat Cenut, atau Islam KTP?

Penyelenggaraan PGA hanya disiarkan di tiga stasiun TV MNC Group. Nah, tentu mendatangkan curiga bila PGA yang tayang di RCTI, Global TV, dan MNC TV nyatanya lebih banyak memenangkan program acara yang tayang di 3 stasiun TV tersebut. Apalagi bila kemudian saat acara dari stasiun TV lain yang menang, pengumuman pemenang tak ditayangkan.

Penyelenggara berkilah, durasi tayangan terbatas (dibatasi 2 jam) jadi tak mungkin semua pengumuman pemenang ditayangkan.

Hal ini sebetulnya bisa diakali. Agar independensi ajang ini terjaga dan wibawanya dihormati di kalangan pertelevisian, penyelenggaraannya sebaiknya digilir di stasiun TV nasional berbeda tiap tahun.

Memang, biasanya, biaya siaran ditanggung stasiun TV  penayang—yang memungkinkan terjadi bias (semacam pikiran “Buat apa gue promoin acara TV lain di stasiun TV gue”) atau kecurigaan (“Dasar! Mentang-mentang tayang di TV loe, acara TV gue menang nggak loe tayangin”).

Untuk itu setiap stasiun TV wajib berembug menyiapkan bersama, saling ikut membiayai, dan bila ada pemasukan iklan, hasilnya dibagi bersama. Sehingga, hajatan PGA adalah milik semua insan TV kita, bukan segelintir stasiun TV yang bagi-bagi hadiah bagi acara mereka sendiri.

Sejatinya, PGA tak ubahnya popularity contest dalam bentuk lain. Dengan menempatkan polling SMS dari pemirsa, yang menang adalah “acara yang paling banyak dapat dukungan SMS.” Tidak ada yang salah dengan penjurian model begini—apalagi, polling SMS mendatangkan uang bagi penyelenggara.

Namun, alangkah baiknya, bila ajang yang menganggap apresiasi tertinggi bagi insan TV nasional ini, tidak mengejar popularitas semata. Melainkan ajang penghargaan bagi mutu serta kualitas acara.

Penjurian model FFI bisa jadi contoh. Semula ada komite seleksi yang memilih film-film yang rilis selama setahun untuk masuk daftar unggulan. Kemudian daftar nominasi dipilih anggota dewan juri. Festival Film Cannes juga memakai metode pemilihan pemenang oleh sejumlah dewan juri.

Sementara itu, Academy Awards dan Emmy Awards pemenangnya dipilih oleh anggota organisasi yang menaungi insan film (untuk Academy Awards) dan insan TV (untuk Emmy Awards).

Pada zaman Orde Baru organisasi semacam itu ada. Namanya KFT (Karyawan Film dan TV). Saya tak tahu organisasi ini masih ada atau tidak, kalaupun ada, masih aktif atau tidak. Yang jelas, dulu setiap insan TV dan film harus jadi anggota organisasi ini.

Bila memang tidak bisa, alangkah baiknya insan TV nasional berkumpul untuk menghasilkan sebuah ajang penghargaan baru yang penayangannya lebih adil, penjuriannya kredibel, menghargai program acara berkualitas (tidak sekadar populer), tidak terikat pada satu sponsor (seperti PGA) atau stasiun TV (seperti SCTV Awards), dan dihormati serta punya wibawa di kalangan insan TV sendiri.

Saya yakin insan TV kita bisa mewujudkannya.

(ade/gur)