Indonesian Movie Awards, Kenapa Harus Terus Ada? (PLUS FOTO-FOTO PEMENANG)

pememnang-ima
TABLOIDBINTANG.COM -

MASIH ingatkah Anda apa yang mendasari kelahiran Indonesian Movie Awards?

Selama bertahun-tahun, Festival Film Indonesia menjadi ajang penghargaan tertinggi bagi insan film. Memang ada Festival Film Bandung (FFB), tapi gaungnya tak pernah bisa menandingi FFI yang berskala nasional.

Namun, kekisruhan terjadi pada ajang FFI tahun 2006. Film Ekskul menang gelar Film Terbaik yang kemudian mendatangkan protes, membuat para peraih Piala Citra, sebutan bagi piala FFI, mengembalikan piala-piala mereka. Tak sekadar mengembalikan piala, para sineas ini juga kemudian memboikot pelaksanan FFI. (Hingga kini, ada yang masih boikot, tapi ada pula yang sudah kembali menerima FFI.)     

Di tengah gonjang-ganjing FFI, RCTI menggagas ajang penghargaan Indonesian Movie Awards (IMA) yang pertama digelar 2007. Boleh dibilang penyelenggaraan IMA juga bagian dari strategi RCTI untuk menyaingi SCTV yang waktu itu memiliki hak siar atas FFI setelah lepas dari Indosiar. IMA 2007 digelar dengan FFI di tahun yang sama di Pekanbaru, Riau yang disiarkan langsung SCTV.   

Waktu itu, IMA memberi tempat bagi sineas yang memboikot FFI. Misalnya, pada penyelenggaraan pertama, IMA memberi gelar Film Favorit pada Denias, Senandung di Atas Awan yang di FFI dikalahkan Ekskul. Pada ajang IMA 2009 yang keluar sebagai jawara adalah Laskar Pelangi yang oleh Miles Films, rumah produksinya, tak diikutsertakan ke FFI.

Seiring waktu, hak siar FFI jatuh ke tangan RCTI. Sekarang, RCTI punya IMA dan juga FFI. Semula, setelah RCTI memegang hak siar FFI, saya mengira IMA akan divakumkan. Nyatanya tidak. Ini patut diapresiasi. Sebab, IMA dan FFI memiliki tipe penjurian berbeda dan semakin banyak ajang penghargaan film berarti insan perfilman semakin dihargai.

Hal ini juga jadi penanda betapa perfilman Indonesia masih tumbuh dan terus melahirkan film-film berkualitas untuk dihargai saban tahun. Kita tentu ingat, FFI pernah vakum selama tahun 1990-an dan awal 2000-an karena yang dibuat melulu film esek-esek dan produksi film nasional sangat sedikit. Masa itu kita kenang sebagai masa mati suri perfilman nasional.

Semoga masa itu tak pernah terulang lagi. Dan IMA, FFI, FFB, atau entah apa lagi terus rutin digelar saban tahun.         

(ade/ade)