Acara Musik di TV Nasional, Mengapa Mulai Ditinggalkan Penonton?


Acara Musik di TV Nasional, Mengapa Mulai Ditinggalkan Penonton?

inBox
InBox, pelopor trend siaran langsung reality show musik.
TABLOIDBINTANG.COM -

ACARA musik di TV nasional sempat menjadi primadona.

Bagi Anda penonton TV pagi hari yang sudah jenuh melihat FTV-sinetron rerun, atau program infotainment yang beraneka ragam tapi menampilkan berita yang sama, kehadiran acara musik yang dikemas dalam konsep siaran langsung terlihat lebih segar.

Melihat video klip lagu yang sedang hits, aksi panggung penyanyi idola, plus host yang cantik atau ganteng, tentu menjadi alternatif yang menarik.

Tren ini dipelopori oleh inBox (SCTV), yang pertama mengudara pada Desember 2007, dengan host Andhara Early. Konsepnya mengadaptasi acara MTV TRL (Total Request Live). Ada video klip, tangga lagu, dan bintang tamu. Bintang tamu tak harus penyanyi. TRL kerap juga dijadikan ajang promo film atau serial baru.

Di Amerika Serikat, acara ini terbilang sukses. MTV TRL tayang selama 10 tahun; 14 September 1998-16 November 2008.

Terlepas dari kontroversi (waktu itu) seringnya bintang tamu lipsync, toh inBox mendapat respon yang baik dari pemirsa TV.

Data Nielsen periode 18-24 Februari 2008, inBox meraih rata-rata rating TVR 2,9 dan share 27,1. SCTV yang awalnya menayangkan seminggu 5 kali, menambah masa tayang jadi setiap hari. Jam tayang yang mulanya 1 jam, bertambah jadi 90 menit dan kini 120 menit.

Melihat ratingnya yang oke, TV lain pun mengekor. RCTI segera membuat DahSyat, yang tayang perdana Maret 2008. Hostnya Darius Sinathrya. Konsepnya amat mirip, awalnya juga memakai panggung outdoor seperti inBox. Namun ratingnya tak bisa mengalahkan inBox.

Sampai hostnya digantikan Raffi Ahmad-Olga Syahputra-Luna Maya di tahun yang sama, konsepnya pun berubah indoor di studio RCTI (kecuali weekend, sesekali lokasinya outdoor--red). Rating Dahsyat terus naik, bahkan mengalahkan inBox. Periode 6-12 Oktober 2008, TVR rata-rata DahSyat mencapai 3,1. Sementara inBox kalah tipis, dengan TVR rata-rata 3,0.

Sukses 2 program ini membuat stasiun TV lain berlomba-lomba membuat acara serupa. Trans TV punya DeringS yang jam tayangnya bertabrakan dengan inBox dan DahSyat.

antv memisahkan video klip dan live music, tayangnya pun siang dan sore hari. Untuk video klip, ada di program Klik! Sedang live music, bisa disimak di Mantap. Terakhir Indosiar tak mau ketinggalan dengan Hitzteria-nya.

Namun acara-acara follower ini tak mampu mengalahkan inBox dan DahSyat. DeringS dan Hitzteria kini sudah tidak tayang. Mantap yang sempat stripping, sekarang tayang weekend saja.
inBox dan DahSyat sampai sekarang masih tayang.

Tapi perolehan TVR dan share sudah tidak seprima dulu. Meraih TVR 3 dan share di atas 25 kini sulit dicapai. TVR sudah jarang menyentuh angka 2, dan share mentok di kisaran belasan.

Mengapa acara jenis ini mulai ditinggalkan penonton?

Well, belakangan acara musik di TV lebih berkonsep variety show. Video klip dan live perform tidak lagi jadi menu utama. Penonton disuguhi gontok-gontokan antar host, bintang tamu dikerjain atau disuruh main game, boyband-girlband diadu battle dance, malah ada juga segmen parodi infotainment dan memasak bersama chef segala.

Ya, tentu ada pertimbangan mengapa tim kreatif menampilkan segmen-segmen yang tidak relevan dengan industri musik. Mungkin, selama periode waktu tertentu, bisa mendongkrak rating. Tapi bagi mereka yang menonton acara jenis ini murni untuk mendengarkan musik, melihat video klip, dan menonton penyanyi idolanya perform, pasti akan kecewa dan meninggalkan acara jenis ini.

Kemungkinan kedua, penonton sudah jenuh dengan sensasi-sensasi yang ada di acara musik. Tentu Anda ingat pasangan selebriti yang sempat putus cinta gara-gara salah satu pihak menganggap candaan seorang host acara musik keterlaluan.

Ada musisi pria menembak penyanyi wanita, atau host nembak bintang tamu secara live. Ada juga pesinetron yang mengaku putus dengan kekasihnya sesama artis. Belum lagi sensasi gosip pacaran antara 2 host. Duh, ini sebenarnya acara musik atau infotainment sih?

Kemungkinan ketiga, muncul acara-acara yang mengadopsi lawakan di acara musik. Harus diakui acara musik jenis ini menjadi pelopor lomba pantun dan ngegombal di stasiun TV.

Kalimat, “bapak kamu polisi? Soalnya kamu menahan hati aku,” yang kerap dilontarkan host kini populer di masyarakat. Belakangan, muncul acara-acara lawak yang isinya khusus mengangkat bercandaan seperti itu. Alhasil segmen ngegombal yang kerap diselipkan acara musik kalah pamor.

Lalu bagaimana sebaiknya? Alangkah baiknya jika acara musik kembali ke era 90-an. Coba ingat Bursa Musik Indonesia (BMI), Nuansa Musik dan Delta (RCTI). Acara jenis ini hanya menampilkan video klip dengan pembawa acara berupa narasi. Ibarat mendengarkan radio, tapi bonus gambar alias video klip.

Kalau mau jualan presenter, bolehlah mencontoh Video Musik Indonesia (RCTI), AMKM (TPI), Video Hits, Visual atau Zimfoni (SCTV). Presenter berfungsi untuk menjelaskan apa video klip yang hendak diputar, atau membacakan surat (request) dari pemirsa. That’s it!

Jadi acara musik benar-benar dibuat untuk mereka yang ingin mengetahui perkembangan musik, atau sekadar mendengarkan lagu-lagu. Tapi mungkinkah acara seperti ini dibuat?

Sepertinya tidak, karena acara ini akan sangat segmented; membidik penikmat musik. Lagi-lagi kita harus menyerah pada rating. Bagaimana pun juga stasiun TV hidup dari iklan, sementara pengiklan mau pasang iklan jika rating acara TV tinggi. Solusinya, membuat acara semenarik mungkin. Terlepas relevan atau tidak.

Jadi, ya, pemirsa TV umum (bukan TV berbayar) tak punya banyak pilihan selain menyaksikan program (berkedok) acara musik, namun isinya lebih banyak lawakan, saling ledek, games, dan segmen lain yang tak berkaitan dengan musik.

(ray/gur)