Tentang "Rayya" dan Memberinya Kesempatan


Tentang "Rayya" dan Memberinya Kesempatan

rayya-1
TABLOIDBINTANG.COM -

MENONTON Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (baiknya saya sebut Rayya saja) saya seperti naik mesin waktu balik ke awal 2000-an.

Waktu itu film Indonesia baru bangkit tapi masih terbilang jarang dibuat. Tidak seperti sekarang yang saban minggu satu-dua film baru dirilis. Waktu itu pula yang nyemplung ke dunia film masih relatif sedikit jika dibanding sekarang. Maka, tak heran, setiap film Indonesia yang edar disambut dengan apresiasi berlebih—jika bukan oleh penonton setidaknya oleh media dan kritikus film.

Saya ingat, di awal hingga pertengahan 2000-an, film Indonesia dikritisi punya satu masalah laten: secara teknis baik, namun gagap menyampaikan pesan ceritanya. Biar Anda percaya, baiklah saya kutipkan Catatan Dewan Juri Film Cerita Bioskop FFI (Festival Film Indonesia) 2005 bertajuk “Tak Ada Film Bioskop yang Benar-benar Utuh” yang termaktub di buku FFI 2005.

Di situ ditulis:

“Film-film tersebut... patut mendapat pujian khusus karena umumnya memiliki pencapaian teknis sinematografi yang istimewa. Semua unsur rata-rata bagus, terencana dan dinamis...  Sebagai hasil craftmanship, film-film itu sudah beres sebagai film, dengan hasil akhir yang menarik....  Mereka sungguh-sungguh sangat menguasai seni dan teknologi perfilman sebagai medium atau alat ucapnya.

“Namun seperti disinggung di atas, film-film tersebut umumnya lemah dalam tema dan cerita. Temanya kebanyakan stereotip...   Sementara problematika yang diangkat terkesan mengada-ada, tidak realistik dan tidak membumi, seperti dicomot begitu saja dari langit. Sama sekali tidak mencerminkan atau mewakili persoalan manusia Indonesia dan kehidupan kontemporer yang berlangsung di sekitar kitaa. Belum lagi, skenario yang cenderung verbal. Semua mesti dijelas-jelaskan dengan kata-kata, seperti tidak mempercayai kekuatan gambar untuk menjelaskan sesuatu.

“Fakta di atas menunjukkan wawasan dan referensi yang dimiliki para penulis dan sutradara film-film tersebut masih dominan bersal dari luar Indonesia.Termasuk pola pengadeganan, sudut pengambilan gambar, bahkan framing-nya.  Hal-hal yang mungkin diserap dari film-film asing, internet, buku-buku impor, dan lain sebagainya. Bukannya dari berita-berita koran dan televisi, atau pergaulan dan interaksi yang intens dengan orang-orang Indonesia yang ada di dekatnya. Film-film tersebut seolah ditulis dan dibuat oleh orang-orang ‘asing’, yang tidak mengerti kehidupan dan tidak mengenal masyarakatnya sendiri.”

rayya-6Sedikit banyak, sejumlah poin-poin keluhan di atas cocok dengan Rayya. Misalnya, film ini sudah bagus dari teknik sinema, namun bagi saya skenarionya masih cenderung verbal. Selain itu bahasa puitis dan berima yang banyak disisipkan mungkin akan enak dibaca sebagai bahasa tulisan, tapi akan terasa janggal di telinga.

Sekali lagi, menonton Rayya seperti membawa saya saat menonton Banyu Biru (2005) ataupun Koper (2006). Dua film itu dibuat dengan idealisasi yang tinggi, diniatkan sebagai film dengan bahasa tutur yang terasa lain untuk ukuran film Indonesia. Namun, hasil akhirnya, dua film itu bagus secara teknik tapi kurang lancar bertutur.

Perfilman kita berkembanng pesat dibandingkan sejak pertengahan 2000-an. Film macam Banyu Biru sudah jarang dibuat. Semenjak sukses Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi (keduanya rilis 2008) , kebanyakan tema film drama yang diangkat jika bukan film bermuatan religi, tentulah kisah inspiratif orang-orang bawah yang sukses dari bawah (from zero to hero). Film macam Rayya yang mengambil jenis road movie, sudah kian jarang dibuat.

Di sinilah bagi saya, sepatutnya kita, penonton, memberi kesempatan untuk semakin banyak film semacam ini dibuat. Bagi Anda yang belum menontonnya, silakan meluangkan waktu dan memberi film ini kesempatan untuk bercerita seperti apa maunya.

***

Jujur saja, semula saya tak hendak memberi film ini kesempatan. Di bagian awal, saya memvonis filmnya banyak omong. Bahasa-bahasa puitis yang bagi saya tanpa makna bertaburan mengisi relung batin hingga saya kekenyangan. Di lain pihak, perut saya penuh diisi air. Bikin saya kebelet kencing. Tak tahan, baik oleh puisi-puisinya dan air yang sudah di ujung mendesak minta keluar, saya memutuskan ke toilet (hal yang jarang sekali saya lakukan saat preview film, karena berarti saya menonton filmnya tak utuh). Tapi waktu itu saya pikir, baiklah saya ke toilet saja, toh filmnya pasti hanya akan dipenuhi dialog putis tentang kegalauan sang diva bernama Rayya (dimainkan Titi Sjuman) yang baru saja diputus cinta oleh kekasihnya yang lebih memilih wanita lain.

Saya kembali ke bangku di dalam keremangan bioskop ketika momen Rayya dan fotografer teman seperjalanannya, Arya (Tio Pakusadewo) bertemu pengantin yang hendak kawin. Dialog-dialog bernas dan kelucuan yang tulus malah muncul di adegan ini. Saya berseru dalam hati, “Hei, film ini mulai menarik!”

rayya-17Dan demikianlah, setiap Rayya bertemu dengan orang-orang di setiap perjalanannya, filmnya seakan memancarkan energi lain yang menarik perhatian saya. Filmnya jadi bukan semata film dengan bahasa gambar yang indah dan orang berteriak membacakan puisi-puisi galau mau bunuh diri segala.

Momen-momen terbaik Rayya sebagai road movie adalah ketika Rayya dan Arya bertemu orang-orang di sepanjang perjalanan mereka dari Jakarta hingga Bali. Mulai dari tukang kerupuk yang tak mau dikasihani dengan diberi uang Rp 50 ribu, bertamu ke kerabat Arya yang diperankan dengan Christine Hakim yang menjadi scene stealer film ini, hingga momen-momen kecil saat orang paling “bahagia” tertawa di bawah tugu Yogyakarta, dua pemuda punk mencium tangan pada yang lebih tua, hingga adegan Rayya melihat baju-baju mahalnya dipakai pedagang di pasar.    

Saat jumpa wartawan usai nonton, Noe “Letto” (bernama asli: Sabrang Mowo Damar Panuluh), yang di film ini bertindak sebagai produser, menjawab pertanyaan wartawan yang mengatakan filmnya berat di awal “tapi ke sana-sananya nggak.” Noe menyebut hal itu wajar. Filmnya memang sudah punya stigma sebagai film berat, padahal, “awalnya berat kemudian biasa-biasa saja,” katanya.

Noe kemudian menjelaskan, saat mendapati sesuatu yang baru pikiran manusia cenderung menanamkan stigma terlebih dahulu. Ini wajar, katanya. Tapi, katanya pula, pikiran manusia punya caranya sendiri beradaptasi dengan hal-hal baru. Itu yang dimaksudnya film ini akan terasa berat di awal, tapi sesudahnya, setelah kian lama ditonton dan diresapi akan terasa biasa-biasa saja. Bahkan bisa dinikmati dengan asyik.

Mungkin apa yang dikatakan Noe ada benarnya, mungkin juga tidak. Mungkin memang pada awalnya, filmnya kurang lancar bertutur, tapi kemudian—terutama setelah Rayya dan Arya bertemu dengan orang-orang di sepanjang perjalanan mereka—filmnya jadi enak diikuti.                          

Yang jelas, karya Viva Westi (mungkin karya terbaiknya setelah May, 2008) yang menulis skenario bareng Emha Ainun Nadjib ini, tetaplah harus diberi kesempatan untuk diapresiasi. Bagi saya, memberi kesempatan film semacam ini untuk hidup berarti juga memberi kesempatan perfilman kita untuk maju, tidak terkungkung dalam jenis yang itu-itu saja: horor mesum lagi, drama inspiratif melulu, atau religi melulu.

Images credit: Mam production & Pic[k]lock Films

(ade/ade)