"Demi Ucok", Antara Nya' Abbas Akup dan Sammaria Simanjuntak

demi-ucok-still-13
TABLOIDBINTANG.COM -

“JIKA Sammaria mengembangkan bakatnya ke arah yang benar, barangkali dia bisa mengikuti jejak Nya' Abbas Akup.”

Demikian kalimat terakhir yang ditulis majalah Tempo edisi 23 Desember 2012 di artikel yang menyebut film yang dibesut Sammaria Simanjuntak, Demi Ucok sebagai film terbaik 2012 versi Tempo. Mohon izin ulasan ini bertolak dari akhir kalimat itu.

Nya' Abbas Akup (1932-1991) adalah salah satu sutradara legendaris yang pernah dimiliki negeri ini. Boleh dibilang, ia Bapak Film Komedi Indonesia. Kritikus film senior Salim Said (1991: 221) dalam sebuah tulisannya menyebut Abbas sebagai “Tukang Ejek Nomor Wahid.” Abbas, sudah menarik perhatian sejak film pertamanya Heboh (1954), produksi Perfini milik Usmar Ismail, yang dibuatnya saat baru berusia 22 tahun!

Ditulis Salim, di tengah komedi konyol gaya sandiwara sebelum perang, Abbas tampil dengan suatu yang baru. Ia bertolak dari kehidupan nyata yang ada di sekitar—sesuatu yang telah jadi tradisi Perfini. Sebagai sineas, Abbas membuktikan bahwa ia pengamat masyarakat yang baik. Ia tidak “mengarang” cerita, yang dilakukannya justru mengangkat kejadian-kejadian nyata yang ditemuinya dalam hidup sehari-hari.

Hal itu yang tercermin pula dalam film-film Abbas selanjutnya. Film komedinya tidak sekadar dagelan, melainkan juga kritik sosial dan cerminan masyarakatnya. Abbas, misalnya, mengangkat fenomena polah orang kaya baru di tahun 1970-an lewat Inem Pelayan Sexy (1976).

Sedang lewat Cintaku di Rumah Susun (1987), Abbas mengangkat sketsa kehidupan di rumah susun, dengan banyak logat antara lain Betawi, Jawa Timur, dan Madura. Musik dangdut jadi pengiring dominan, sebuah cerminan tingkat sosial para penghuni rumah susun. Harun Suwardi (2006: 143) menulis, lewat Cintaku di Rumah Susun Abbas bertanya siapkah masyarakat berumah susun? Jawaban film itu, para penghuninya masih membawa kebiasaan lama saat tinggal di kampung: jorok, berisik, dan sebagainya.

Tengok pula saat Abbas bermain-main dengan film koboi lewat Bing Slamet Koboi Cengeng (1974). Meski semuanya bergaya western, dari set, properti, hingga kostum pemain, film tersebut sejatinya parodi dan sindiran kehidupan sehari-hari yang dibungkus dunia koboi. Maka, meski berwujud dunia koboi nama-namanya tetap lokal, berasal dari Klaten, Jawa Tengah, tinggal di Kebon Nanas, Jakarta Timur. Minuman yang ditenggak para koboi juga bukan wiski, tapi beras kencur. Di film terakhirnya, Boneka dari Indiana (1990), Abbas melakukan kritik sosial pada pengusaha yang tak peduli pada persoalan lingkungan demi mendapatkan untung dari mengimpor limbah.

***

demi-ucok4Setelah penjelasan sosok Nya Abbas Akup di atas, mari tengok sosok Sammaria, si pembuat Demi Ucok.

Sammaria pertama menyita perhatian penikmat film baik sinema Indonesia lewat Cin(T)a (2009), film panjang pertamanya yang dibuat secara independen saat usinya menginjak 26 tahun. Film tersebut mengangkat tema kontroversial: cinta beda agama. Dengan pemain yang hanya sedikit, ia juga menulis skenario bersama Sally Anom Sari dan berhasil meraih penghargaan Festival Film Indonesia 2009 untuk skenario cerita asli terbaik.

Cin(T)a memang semata-mata film yang mengandalkan dialog cerdas yang dilontarkan pemainnya. Hasilnya pun sebuah film yang terlihat seperti sebuah esai ketimbang film yang berpijak pada cerita.

Sammaria kemudian melatih kemampuannya jadi sineas dengan ikut proyek pembuatan omnibus film dokumenter Kalyanashira Foundation berjudul Working Girls (2010). Ia menggarap segmen 5 Menit Lagi tentang seorang penyanyi dangdut ABG yang hidupnya seperti “orang dewasa.” Di sini, Sammaria membuktikan diri bukan sineas yang hanya piawai menyuguhkan gagasan lewat dialog, tapi juga bercerita lewat gambar.

Nah, di awal 2013, Sammaria kembali dengan film panjang keduanya, Demi Ucok. Film ini bolehlah disebut lompatan quantum berikutnya dari Sammaria. Ketika pertama membayangkan filmnya, saya semula berpikir Sammaria akan kembali berasyik ria membuat film seni dengan semangat indie. Saya bayangkan filmnya akan sepi, banyak dialog cerdas, dan berwujud sebuah film esai lagi.

Ternyata saya salah. Sammaria rupanya bukan tipe sineas yang asyik bermain di zona aman, menggarap jenis film yang sudah diakrabinya. Ia lebih pas disebut sineas yang jujur: berani menelanjangi diri sendiri dan dunianya.

demi-ucok9Maka, jika Cin(T)a adalah esai, Demi Ucok adalah autobiografi. Sammaria menghadirkan kesaksiannya sebagai pekerja film sekaligus gadis Batak di tengah lingkungan dan adat Batak yag erat.

Alter ego sammaria di Demi Ucok adalah Gloria (Geraldine Sianturi), biasa disapa Glo, dosen film yang sudah menghasilkan sebuah film indie, dan berencana membuat film kedua yang lebih wah, lebih besar, dan lebih “profesional.” Di sisi lain, Glo hidup di keluarga Batak. Ibunya, Mak Gondut (diperankan dengan amat baik oleh ibunda Sammaria sendiri), menginginkan putrinya yang sudah beranjak dewasa segera menikah.

Di sini kemudian Sammaria bermain-main dengan idiom populer. Sebagai wanita yang ingin hidup mandiri sesuai keinginannya, Glo mengejek sang bunda dengan kalimat: “Glo tak mau jadi seperti Emak, kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.” Saat sang bunda berniat memberi uang Rp 1 miliar untuk modal bikin “pilim” pada Glo, Sammaria bermain dengan idiom “kasih ibu sepanjang masa” tapi dengan tanda asterisk “terms and condition apply—syarat dan ketentuan berlaku.” Lalu kita lihat Mak Gondut nyengir jail dengan gaya khasnya, “Aku kasih kau satu M, asal... kau kawin sama Batak.”

Gaduhnya perjodohan khas Batak kemudian menjadi tontonan menyegarkan film ini. Seluruh kejenakaan dari kebiasaan khas Batak menjadi pelumas cerita ini. Tapi, Sammaria tak hendak bermain-main dengan memparodikan budaya Batak yang sebetulnya menjadi bahan pokok yang takkan habis digali untuk mengundang tawa. Di sini ia justru menunjukkan kejeniusannya, ia tak hendak memperolok ataupun menggugat akar darimana ia berasal. Ia, seperti diucapkan Glo, berkata, “Aku tidak mau kawin. Aku mau bikin film.”

Maka, Demi Ucok juga sejatinya adalah film tentang film. Lebih tepatnya lagi sebuah ffilm tentang film yang terasa personal karena yang diceritakan sebetulnya kisah pembuatan fim Demi Ucok. Syahdan kita melihat Glo yang kesulitan mendanai filmnya. Ia terbamg ke Singapura, minta bertemu sutradara favoritnya untuk pitching skenario filmnya. Cara ini gagal. Lalu, seorang konglomerat yang dipenjara dengan gampang memberi cek Rp 1 miliar pada Glo berkat bantuan Mak Gondut. Glo menampik, tak mau bikin film dari uang haram hasil korupsi. Ia lalu melakukan cara yang juga dilakukan Sammaria di dunia nyata: cari dana film lewat bikin situs crowd funding alias menggalang dana dari masyarakat dengan menyumbang agar filmnya terwujud.

Kisah personal ini yang kemudian membedakan kritik sosial gaya Sammaria berkomedi dengan Nya’ Abbas Akup. Sammaria tak hendak mengkritik hal yang besar-besar semisal korupsi atau masalah sosial lain. Kalaupun ada menyerempet soal korupsi di filmnya, Sammaria bersikap khas sineas: tidak menerima uang hasil korupsi untuk bikin film.

Di film Heboh (1954) yang dibuat Abbas saat berusia 22 tahun misalnya, ada Mang Udel (Purnomo) memplesetkan lagu Ibu Sud “Menanam Jagung” dengan lirik begini, “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam menanam modal yang tumbuh rugi.” Konon, kala itu banyak pengusaha yang merugi saat berinvestasi. Sammaria, di tahun 2012, tak tertarik mengomentari masalah semacam itu. Ia lebih tertarik mengkritik kondisi perfilman: “Film Indonesia… yang nonton sedikit, yang banyak cuma pajak.”

***

Pada akhirnya, lewat tulisan ini saya tak hendak mempertentangkan Nya’ Abbas Akup yang begitu legendaris dengan Sammaria yang baru membuat dua film panjang. Dua sutradara itu punya persamaan sekaligus perbedaan. Jalan Sammaria masih panjang.

Melihat kemampuannya, bermain di film esai penuh gagasan atau film komedi yang bercerita, Sammaria sepertinya aakan sukses membuat film apa saja. Entah ia akan menjadi sutradara spesialis film komedi kritik sosial cerdas seperti Abbas atau mengambil jalannya sendiri, bermain-main di berbagai jenis film.

Apapun langkah berikutnya yang diambil Sammaria setelah Demi Ucok, saya berjanji menjadi penonton setianya lantaran percaya, ia akan selalu menyuguhkan tontonan yang baik.***


BAHAN BACAAN DAN REFERENSI:
Koleksi film-film Nya’ Abbas Akup saya tak lengkap. Saya cuma punya tiga film Inem Pelayan Seksi, Ateng Minta kawin, dan Boneka dari Indiana.
Saya menonton dan jatuh cinta dengan Cin(T)a.
Untuk mengenal Nya’ Abbas Akup dari bacaan, silakan baca:
* Harun Suwardi (ditulis ulang Veven Sp. Wardhana), Kritik Sosial dalam Film Komedi: Studi Khusus Tujuh Film Nya Abbas Akup, FFTV-IKJ Press, 2006.
* Salim Said, Pantulan Layar Putih: Film Indonesia dalam Kritik dan Komentar, Pustaka Sinar Harapan, 1991.

Images credit: Dok.Kepompong Gendut

(ade/ade)