Mengenang Iqbal Rais (1984-2013), Hidupnya Akan Menginspirasi Kita Selamanya


Mengenang Iqbal Rais (1984-2013), Hidupnya Akan Menginspirasi Kita Selamanya

iqbalrais45twiter
Iqbal Rais (1984-2013) (dok. Twitter @iqbalrais)
TABLOIDBINTANG.COM -

SEBELUM mengenang sosok Iqbal Rais, yang meninggal dunia Minggu (22/9) malam, saya kutipkan berita yang ditulis tabloid ini pada edisi 886, minggu ketiga April 2008.

Tabloid ini menulis soal Iqbal ketika itu. Saya kutip lengkap berita pendek itu di bawah:

Iqbal Rais, Sutradara The Tarix Jabrix, Terpengaruh Gaya Hanung

ADA bisik-bisik seru di kalangan wartawan dalam premiere film The Tarix Jabrix Rabu (16/4) lalu. Di antara cast, seluruh personel The Changcuters (ya, kita semua tahu), Carissa Puteri, Francine Roosenda, Ariyo Bayu, wartawan kasak-kusuk mengomentari satu sosok cowok berpenampilan anak kuliahan yang tampak asing. Siapa dia? Oh, ternyata dia sutradara The Tarix Jabrix.

Ya, maklum kalau tidak ngeh. Dia pendatang baru di dunia perfilman Indonesia. Namanya pun tidak tercantum di promo. Nama yang tertulis besar-besar justru Hanung Bramantyo. Ini memang kali pertama namanya tercantum di credit title awal film dengan sebutan director, dengan tulisan yang besar pula. "Akhirnya kesampaian juga nama saya ada di credit title film saya sendiri," demikian ungkapnya kepada Bintang.

Jadi Iqbal ini bukan benar-benar pendatang baru? "Saya awalnya asisten sutradara Mas Hanung (Bramantyo) selama 4 tahun," kata cowok kelahiran 1984 ini. "Cuma agak geregetan juga karena nama saya paling muncul di belakang, yang (tulisannya) kecil-kecil, sebentar lagi. Jadi ini semacam obsesi juga."

Menyebut soal Hanung, menggelitik Bintang untuk mengonfirmasi kentalnya nuansa Hanung di film perdanannya ini. "Wajar saya kira. Karena Mas Hanung itu sebagai supervised director juga di film ini. Dan Mas Hanung itu mentor saya di Dapur Film (Community), jadi mungkin memang sudah sepaham konsep pemikirannya. Kalaupun ada yang melenceng banget, pasti dikasih tahu sama Mas Hanung. Tapi tetap unsur sayanya juga ada," kata Iqbal.

***

tarixBTS090012Jujur, saya tak banyak menonton film-film Iqbal Rais. Dari 10 film yang sudah dibuatnya sejak 2008 hingga 2013, hanya satu-dua yang saya tonton. Film-filmnya pun, jujur, tak mendapat tempat istimewa bagi saya. Iqbal belum menorehkan prestasi membuat film yang menjadi penanda zamannya seperti Rudi Soedjarwo membuat Ada Apa dengan Cinta?, Hanung Bramantyo membuat Ayat-ayat Cinta dan Habibie & Ainun, Riri Riza membuat Gie, atau Ifa Isfansyah membuat Sang Penari.

Iqbal belum sempat merasakan membuat film seperti itu. Tapi, andai kanker leukimia tidak menggerogoti tubuhnya, saya yakin Iqbal sebentar lagi akan membuat film yang menjadi "signature" bagi karier penyutradaraannya.

Trilogi Tarix Jabrix, Si Jago Merah, Sehidup (Tak) Semati, Pejantan Tanggung, atau Radio Galau FM adalah film-film yang masuk kategori menengah. Filmnya bukan film kelas rendahan yang menjual horor berbumbu seks; pun bukan film idealis yang menyasar golongan intelektuil yang sedikit, mereka yang sering menggerutu pada perfilman Indonesia.

Iqbal sebetulnya terbilang jenius. Dengan berdiri di tengah, Iqbal tak melacurkan dirinya membuat film rendahan. Pun ia tak mau sok idealis, hanya membuat film yang menyasar penonton sedikit.

Yang membuatnya layak menjadi inspirasi, terutama karena produktivitas Iqbal yang rasanya sulit ditandingi sutradara manapun. Bayangkan, sejak karier profesionalnya sebagai sutradara tahun 2008, sepanjang 5 tahun Iqbal merampungkan 10 film panjang. Sejak 2011, ia menggarap film sambil harus berperang melawan leukimia.

Iqbal sempat dirawat hingga ke Malaysia dan terakhir dirawat intensif di Surabaya. Dalam berbagai kesempatan wawancara, Iqbal selalu menularkan optimisme pada akhirnya bisa mengalahkan penyakitnya.Ia mengutarakan pula mimpi-mimpinya mewujudkan film-film yang ingin dirampungkannya. Kendati sedang sakit, optimisme dan semangat Iqbal tidak pudar. Di bio Twitter-nya, Iqbal menyebut dirinya "Leukimia Survivor."

***

Ketika seseorang meninggal akibat didera sakit, orang sering menganggap penyakit yang diderita akhirnya mengalahkan si sakit. Saya tak setuju anggapan itu, seolah penyakit dan si sakit terlibat dalam sebuah pertempuran yang ujungnya adalah menang dan kalah.

Penyakit harus dilawan. Kita, manusia, diberi segala akal budi dan sumber daya untuk melawan penyakit. Bila hasil akhirnya tubuh si sakit tak kuat lagi menahan penyakitnya, sejatinya itu bukanlah hasil akhir pertempuran. Setiap manusia pada akhirnya akan meningal, dipanggil ajal, menghadap Penciptanya.

Semangat dan optimisme melawan penyakit yang diderita adalah kemenangan sesungguhnya. Iqbal Rais telah memenangkan pertempurannya. Ia bisa menghadap Penciptanya dengan kepala tegak.***

(ade/ade)