Sokola Rimba: Tentang "Pohon", "Pengetahuan Adalah Senjata", dan "Bukan 'Laskar Pelangi'"


Sokola Rimba: Tentang "Pohon", "Pengetahuan Adalah Senjata", dan "Bukan 'Laskar Pelangi'"

sokola-rimba-miles
Adegan film "Sokola Rimba". (dok. Miles Films.)
TABLOIDBINTANG.COM -

ADA banyak pokok gagasan yang bersliweran di kepala saya usai nonton film ini, Sokola Rimba.

Akhirnya saya memilih tiga saja, seperti saya tulis di judul tulisan.

I. Tentang Pohon
Saya teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca di Kompas. Di tulisan yang saya lupa penulisnya itu diterangkan hakikat kata "pohon".

Kata "pohon" sangat erat berkaitan dengan kata "memohon". Dan kedekatan itu bukan datang sembarang. Artinya, ada alasannya kenapa kita menyebut tumbuhan tinggi jangkung yang menjulang ke angkasa itu dengan kata "pohon".

Yakni pada pokoknya, kata itu datang dari tradisi leluhur kita yang menganggap pohon sebagai benda keramat. Leluhur kita dulu--bahkan masih ada yang mempraktekkannya--terbiasa menaruh sesajen di bawah pohon lalu berdoa. Di bawah pohon itu orang-orang berdoa, memohon agar permintaannya dikabulkan Yang Maha Kuasa. Bentuknya yang menjulang ke langit mungkin dianggap pas sebagai perantara antara manusia dengan Penciptanya. Pada titik itu pohon adalah tempat memohon.

Dengan adanya tradisi itu sebetulnya masyarakat kita telah sejak ribuan tahun mengkeramatkan pohon, tak berlaku sewanang-wenang atasnya. Namun yang terjadi sekarang justru sebaliknya: hutan digunduli, pohon tak lagi dihormati.

Pada film Sokola Rimba, karya terbaru Riri Riza, ada cerita tentang Pohon Madu yang menjulang tinggi. Pohon itu menyimpan sarang lebah yang berisi madu. Orang Rimba, sebutan bagi suku Anak Dalam yang tinggal di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi, demikian menghormati Pohon Madu. Mengambil madu dari pohon pun dilakukan lewat sebuah ritual.

Berbeda dengan Orang Rimba, masyarakat modern tak menganggap lagi pohon sebagai benda sakral. Bagi masyarakat modern, pohon adalah bahan baku pembangunan. Pohon diperlukan kayunya untuk membangun hunian bagi orang kota. Sedang lahan di mana pohon-pohon itu berpijak, bagi masyarakat modern adalah tempat baru bagi tanaman-tanaman yang lebih menghasilkan uang. Walhasil, hutan pun beralih fungsi jadi kebun kelapa sawit.

Menonton Sokola Rimba berarti bertemu mereka yang tak lagi menghormati pohon dan yang masih amat menghormatinya. Sungguh miris melihat bagaimana pohon tak dihargai lagi. Konsep dasar Taman Nasional sebetulnya melindungi pepohonan di dalamnya dari manusia. Namun kenyataannya, konsep itu tak cukup melindungi orang-orang Rimba yang sudah ribuan tahun tinggal di dalamnya. Habitat hidup mereka kian terdesak.

Itu kesalahan kita. Akar masalahnya adalah kebanyakan kita tak lagi menghormati pohon. Kita lupa pada tradisi leluhur. Kita tak lagi mengkaitkan kata "momohon" dengan "pohon".

II. "Pengetahuan Adalah Senjata"
Saya dapati kata itu di film ini lewat narasi tokohnya, Butet Manurung (diperankan Prisia Nasution) di ujung film. Persisnya, ia bilang, "Pengetahuan adalah senjata beradaptasi."

Kata-kata itu segera bergema di relung pikiran saya seperti mantra. Saya lantas teringat sebuah momen yang saya temukan pada esai yang ditulis Wilbur Schramm berjudul "Perihal Membangun Jembatan." Esai terjemahan ini terdapat di buku Komunikasi Antar Budaya yang disusun Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat (pertama terbit 1989, punya saya cetakan ketiga tahun 1993).

Schramm menulis dengan indah. Saya kutip utuh satu paragraf yang ia tulis:

"Izinkanlah saya berkisah tentang apa yang saya alami beberapa tahun lalu di Amerika Latin (esai ini terbit pada 1976--penulis). Saya mengunjungi sebuah keluarga yang tinggal di gunung. Mereka mempunyai anak termuda yang belajar membaca dan menulis di sebuah desa yang baru. Orangtuanya sangat membanggakannya, 'Tulis namamu, Jose,' suruh orangtuanya. 'Tulislah namamu, sehingga orang ini dapat melihatnya.' Si kecil itu mengambil tongkat dan dengan susah payah menulis pada tanah: JOSE. Di belakang bahunya kelihatan wajah orangtua, kakek, saudara, yang memancarkan kebahagiaan. Satu saat ia akan bisa membaca surat kabar atau buku. Satu saat ia akan membawa dunia yang jauh ke rumahnya. Bagi seluruh keluarganya, inilah saat kebahagiaan, saat kemenangan, saat pintu terbuka."

Lewat film ini kita diperlihatkan "orang-orang yang tak lagi menghormati pohon" kerap memperdaya Orang Rimba. Orang terang, sebutan bagi Orang Rimba pada orang luar, meminta kepala suku Orang Rimba membubuhkan cap jari tanda persetujuan di sebuah kontrak perjanjian yang tak mereka mengerti isinya. Akhirnya, hutan mereka dibabat, tanah adat mereka mengecil, wilayah gerak mereka jadi terbatas. Semua itu kadang hanya dibayar dengan sekaleng biskuit dan kopi.

Butet Manurung mendengungkan di film ini pada hakikatnya Orang Rimba tak membutuhkan kita, orang terang. Sudah ribuan tahun mereka hidup damai nomaden di dalam rimba. Kita justru yang kemudian menganggu kedamaian mereka. Persisnya sejak gelombang transmigrasi dari Jawa pada 1980-an, hidup Orang Rimba mulai kita usik.

Kehidupan modern memang tak mungkin begerak mundur. Orang Rimba dituntut beradaptasi agar bisa terus ada, tidak punah digerus zaman. Mantranya ya itu tadi "Pengetahuan adalah senjata beradaptasi."

Pengetahuan membuka pintu ke mana saja, termasuk pintu kemenangan, dan hidup bahagia.

Maka, seperti wajah Prisia yang memerankan Butet terharu melihat seorang anak didiknya, Bungo, yang sudah bisa membaca mempreteli pasal-pasal perjanjian yang merugikan Orang Rimba, kita pun ikut terharu. Itulah momen kemenangan sejati.

III. Bukan "Laskar Pelangi"
Mari salahkan Riri Riza!

Dia yang sepatutnya paling bertanggung-jawab atas segala film-film yang didengungkan sebagai "inspiratif". Tahun 2008 Riri mengadaptasi novel best seller Andrea Hirata jadi film. Filmnya sukses besar. Laskar Pelangi jadi film Indonesia paling banyak ditonton sepanjang sejarah negeri ini (ditonton 5 juta jiwa!).

Seperti sudah jadi hukum alam, satu film sukses akan diikuti film yang punya ramuan sejenis. Resep Laskar Pelangi kemudian ditiru. Apalagi di saat bersamaan kian banyak buku-buku ssejenis Laskar Pelangi: kisah anak desa yang jadi orang sukses, entah bisa kuliah di luar negeri dan/atau kuliah di luar negeri lalu jadi kaya raya.

Tidak ada yang salah menerjemahkan hidup bahagia sebatas "kuliah di luar negeri" dan "jadi orang kaya". Tapi rasanya naif bila ukuran kebahagiaan cuma sebatas itu.

Beruntung Riri bukan tipe sineas yang suka melacurkan diri, mengambil jalan mudah, membuat film dengan resep yang sudah pernah ia pakai. (Baca esai entang film Riri Riza yang lain, Atambua 39 Derajat Celcius di sini.)

Sokola Rimba sebetulnya bisa dengan mudah dibelokkan jadi "the next Laskar Pelangi". Tengok saja, Butet Manurung bisa dijadikan Ibu Muslimah dan anak-anak Rimba bisa ia jadikan bocah-bocah jenaka penuh inspirasi seperti Ikal dan kawan-kawan dari Belitong dulu. Nasib Bungo sedikit banyak mirip nasib Lintang di Laskar Pelangi.

Usai menonton film ini saya ditanya beberapa teman, apa filmnya bagus. Saya tak langsung menjawab. Saya terdiam mencari pilihan kata yang tepat dahulu. Sebab, ukuran "bagus" setiap orang berbeda-beda. Saya akhirnya bilang, "Bagus.... tapi mungkin tak gampang dinikmati." Seorang kawan berkicau, ada temannya yang bilang "Sokola Rimba agak 'kentang.'"

Well, sekali lagi, Sokola Rimba memang bukan Laskar Pelangi. Film ini tak memancarkan inspirasi yang membuat kita terpacu kuliah ke negeri orang atau ingin jadi orang kaya. Film ini justru mendedahkan sebuah kenyataan yang rasanya baru pertama masuk wacana arus utama perfilman kita: kehidupan para aktivis lingkungan tak sesuci kelihatannya. Perang kepentingan atau publikasi bak pertunjukkan dilakukan agar dana dari pendonor lancar.

Laskar Pelangi sebuah kisah nyata yang indah bak dongeng. Sedang Sokola Rimba adalah kisah nyata yang apa adanya.

Laskar Pelangi mungkin lebih memikat dikunyah. Namun Sokola Rimba lebih bergizi.***

(ade/ade)