Mengenang Warung Tenda Artis, Siasat Seleb di Saat Krismon ‘98

lagak-jak-ben-ist
Kartun dok. buku Benny Rachmadi & Muh. Irsad "Lagak Jakarta: Reformasi", KPG, 1998.
TABLOIDBINTANG.COM -

YANG berulang tahun ke-14 bukan hanya Reformasi 1998 yang ditandai dengan jatuhnya Soeharto. Tapi juga apa yang dulu kita sebut “Warung Tenda Artis.”

Generasi 1990-an pasti masih terkenang-kenang momen saat selebriti tanah air ramai-ramai membuka warung di pinggir jalan atau di sebuah tanah lapang pusat keramaian hanya beratapkan tenda. Tempat makan yang biasanya buka dari sore hingga lewat tengah malam itu kemudian akrab disebut “Warung Tenda Artis”.

Bagi yang tak mengalami masa-masa itu, ijinkan saya mengisahkan sedikit latar belakang bagaimana "Warung Tenda Artis" muncul.

Pangkal soalnya adalah krisis moneter yang dimulai setahun sebelumnya, pertengahan 1997. Nilai tukar rupah anjlok atas dollar AS menyusul runtuhnya nilai tukar baht (Thailand) dan won (Korea Selatan). Masa itu disebut Krisis Asia. Karena krisisnya dimulai nilai tukar uang yang jatuh dibanding dollar, kita lebih akrab menyebutnya “Krisis Moneter” yang dipendekkan jadi Krismon.         

Kala itu, dampak Krismon tak hanya menyerang sektor moneter. Karena setiap jengkal hidup kita masih mengandalkan dollar, harga-harga ikut melambung menyusul rupiah yang semakin melemah. Jagat hiburan lambat laun terkena dampaknya. Ajakan manggung, syuting film atau sinetron sepi. Banyak seleb yang menganggur.

Namun, banyak seleb tak mau hanya berpangku tangan, menunggu keadaan membaik dengan sendirinya. Sejumlah seleb ramai-ramai buka bisnis warung pinggir jalan. Fenomena ini mulai mengemuka sekitar Mei 1998. Tabloid ini membuat liputan khusus berjudul “Warung Gaul, Bisnis Baru Artis di Saat Krismon” untuk terbitan edisi 371, minggu pertama Mei 1998.

warung-ronnyDalam rekaman tabloid ini diwawancara sejumlah seleb yang membuka warung tenda pinggir jalan. Ronny Sianturi, anggota Trio Libels, membuka warung yang menyediakan aneka juice di jalan Tirtayasa, Jakarta Selatan. Pemain sinetron dan model Marcellino, memilih makanan khas Palembang, pempek sebagai dagangannya di Pintu IX Senayan. Gugun Gondrong membuka warung tenda di jalan Tirtayasa tak jauh dari tempat Ronny. Gugun terlihat sibuk dan senang mengelola warung bareng pacarnya kala itu, Rheina Ipeh dan adiknya, Lulu. Kemudian ada pula Rina Gunawan yang membuka warung tenda dengan nama acara yang dibawakannya di TPI masa itu, AM-KM. Selain mereka yang wujudnya berupa warung tenda, ada pula pelawak Unang yang membeli ruko di jalan Ciledug Raya No.28, Jakarta. Di ruko itu, Unang membuka warung bakso bernama Kebakar (Kedai Basho Kardiman). Kardiman adalah tokoh pria Jawa yang diperankannya di acara komedi Basho, Bagito Show di RCTI.

Para seleb yang diwawancara tabloid ini membenarkan alasan buka warung lantaran diterpa krisis. ''Daripada terlalu banyak bengong di rumah, saya memutuskan mencari alternatif kegiatan, syukur bila menghasilkan uang,'' kata Ronny. Hal senada dikatakan Marcellino. ''Daripada pusing tak punya kesibukan, sementara saya terbiasa aktif, akhirnya saya putuskan berbisnis,''  kata Marcellino.

Marcellino mengatakan membuka warung pempek setelah mensurvei di kawasan Senayan itu belum ada warung jenis itu. ''Otak bisnis saya berjalan melihat ramainya orang berolahraga sore. Usai mensurvei jenis dagangan yang belum tersedia, saya putuskan jualan pempek. Kebetulan, ada teman kuliah dulu (asal Palembang) yang punya usaha pempek di Cengkareng dan setuju diajak patungan,'' kisahnya di sela kesibukan melayani pembeli. Bermodalkan uang keduanya yang "tak terlalu besar", berdirilah warung pempek Asik Aja di Pintu IX Stadion Senayan 4 April lalu.   

Rina Gunawan mengatakan modal awal warungnya patungan bersama 13 temannya. ''Ini hasil patungan dengan teman-teman se-geng dulu. Jumlahnya 13 orang, cewek semua. Ada yang sarjana hukum, sarjana ekonomi, ada juga yang dokter. Karena belum dapet kerja, akhirnya sama-sama memutuskan untuk dagang. Modal awalnya, kami saweran masing-masing 300 ribu,'' tutur Rina.

Niat berjualan nasi goreng bermula dari kebiasaan Gugun nongkrong di Jalan Tirtayasa. Ia melihat tempat itu punya potensi jadi tempat nongkrong dan menghasilkan uang tambahan, terutama di saat krisis ekonomi. ''Gue terus ditawarin buka warung nasi goreng. Gue pun mengajak adik dan pacar gue untuk ikutan ngebantuin. Sebagai tukang masaknya, gue mengajak pedagang nasi goreng dorongan di komplek gue,'' ujar Gugun.

warung-gugunNamun, tak semua seleb setuju atas fenomena "Warung tenda artis". Dalam catatan majalah Tempo, edisi 3-8 September 1998, Meriam Bellina memilih tak ikut-ikutan latah membuka warung tenda di berbagai kawasan Jakarta. Dia justru prihatin melihat ulah artis yang membuka warung tenda pinggir jalan.

Menurut Meriam, bisnis artis seperti itu hanya akan menyingkirkan mata pencaharian rakyat kecil yang sejak lama sudah membuka warung kaki lima. "Bayangkan saja, bagaimana warung kakilima tidak ngenesmelihat para artis rame jualan. Biar dagangannya kurang enak, tentu pembeli akan tertarik masuk ke warung artis. Saya sedih. Itu namanya mencuri rezeki orang lain," kata Mer.

Mer bercerita suatu ketika mengunjungi warung kakilima langganannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dia tersentuh ketika si penjual menceritakan usahanya menurun drastis.

"Hampir semua langganannya pindah ke warung sebelahnya hanya karena artis si A berjualan di sana. Hati saya seperti tertusuk, masa mereka tega melakukan hal ini," katanya dikutip Tempo kala itu.

Tanpa protes Mer, warung tenda artis kemudian bubar dengan sendirinya. Para seleb yang ramai-ramai membuka warung tenda kemudian memilih menutup sendiri warungnya. Tren warung tenda artis berlangsung tak sampai setahun.

Apa yang terjadi?

Ada sejumlah teori. Teori pertama, yang disuguhkan warung tenda artis tak istimewa-istimewa amat. Makanannya bahkan ala kadarnya, dan beberapa ditengarai tak enak disantap. Lama-lama, pengunjung emoh datang.

Teori kedua mengatakan, pada akhirnya para seleb itu tetaplah harus aktif kembali ke dunia hiburan. Begitu dapat tawaran manggung atau syuting lagi, urusan warung jadi terbengkalai. Calon pembeli yang ingin datang ke warung tenda artis favoritnya malah bertemu warung tenda yang tak ada artisnya. Jika tak ada artis apa bedanya dengan warung tenda lainnya. Kontan saja lama-kelamaan pengunjungnya makin sepi dan warungnya gulung tikar.          

Setiap usaha tetaplah harus dilakoni profesional. Bisnis warung tenda tak sepatutnya dilakoni karena latah atau bermodalkan status sebagai artis saja.  

Walau trennya cuma sebentar, tak dipungkiri "warung tenda artis" sudah mengisi dinamika jagat budaya populer kita. Saat ini, kita bisa mengenangnya sambil merindukannya, kapan lagi bisa makan malam, menyantap nasi goreng, bakso, roti bakar, atau pempek dilayani artis?  

(ade/ade)