45 Tahun G30S: Menonton Lagi Film Itu


45 Tahun G30S: Menonton Lagi Film Itu

g30s-poster
TABLOIDBINTANG.COM -

MASIH ingat dengan malam-malam mendebarkan dan menakutkan itu? Itu lho, di saat kita semua tak punya pilihan selain menonton satu film di TV: Pengkhianatan G30S/PKI.

Selama masa Orde Baru di tahun 1980-an hingga  Orde Baru runtuh, saban malam tanggal 30 September kita hanya punya satu pilihan menonton film itu di layar TV. Pilihan lainnya mematikan TV, tidur lebih cepat, keluyuran keluar rumah, atau mendengarkan radio. 

Filmnya tayang jam 19.30 WIB selepas Berita Nasional TVRI. Lalu berhenti sebentar dipotong Dunia Dalam Berita. Kemudian dilanjutkan lagi hingga total durasinya 4 jam 30 menit.

g30-s-karnoSepanjang hidup di tahun 1980-an dan 1990-an saya tentu berkali-kali mengalami saat-saat film itu diputar oleh TVRI dan—setelah lahir TV swasta—di-relay semua TV swasta. Saya kesal karena seri favorit di RCTI masa itu harus mengalah. Tapi, yang lebih meninggalkan trauma: di malam itu saya tak berani keluar kamar untuk ke kamar kecil buang hajat. Saya takut, waktu lewat ruang TV, mata saya melihat adegan kekerasan yang bikin ngeri di film itu.

Tidak terasa tahun 2010 menandai 45 tahun sejak peristiwa tanggal 30 September itu. Tempo hari saya menonton kembali film itu dan menuliskan catatan ini untuk mengenang lagi saat-saat nonton dulu.

Yang pertama diingat dari film ini adalah logo PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dan bunyi orkestranya yang sudah familiar. Buat generasi 1980-an, sesudah logo PPFN identik dengan serial Unyil. Masalahnya, yang kita akan saksikan setelah logo PPFN di Pengkhianatan G30S/PKI beda sekali dengan Unyil. Kita akan menyaksikan darah, darah, darah itu merah jenderal… Arghh…ngeri... sereeemm...

Setelah logo PPFN, muncul deretan huruf yang diiringi suara mesin tik. Kemudian muncul “suara” dari dalam sumur Lubang Buaya:

“Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini.”

Sumpah, suara “dari dalam sumur” itu bikin saya ngeri. Buat saya, suaranya lebih menakutkan ketimbang cekikikan Suzzana saat jadi Sundel Bolong. Setiap kali melihat sumur sejenis, saya selalu teringat Pengkhianatan G30S/PKI dan takut membayangkan bakal muncul suara dari dalam sumur persis di film. 

g30s-soeLantaran begitu meninggalkan bekas pada penonton Pengkhianatan G30S/PKI sangat pas disebut film monumental. Saat rilis tahun 1984 filmnya jadi film terlaris di Jakarta tahun itu dengan jumlah penonton 699.382. Ya iyalah, waktu itu guru-guru menggiring murid-murid sekolah ke bioskop menontonnya. Usai di bioskop filmnya diputar di TVRI setiap malam tanggal 30 September sampai 1998 saat Menteri Penerangan Yunus Yosfiah mengatakan film itu takkan diputar lagi di TV. 

Jadi, wajar bila Pengkhianatan G30S/PKI jadi monumental yang dikenang terus. Lagipula, film ini tidak dibuat sembarangan. Pemerintah Orde Baru waktu itu sangat niat membuat film ini. Segala sumber daya dikerahkan. Arifin C. Noer, sineas kelas wahid yang sudah pengalaman membuat film kolosal (Serangan Fajar) direkrut pemerintahan Soeharto duduk sebagai sutradara.

Totalnya butuh waktu dua tahun untuk membuat film itu. Hasilnya boleh dibilang monumental. Dengan durasi 4,5 jam, bujet Rp 800 juta (yang termahal di awal 1980-an), melibatkan 120 orang memerankan tokoh nyata dan 10 ribu figuran pantas bila film ini menyebut di posternya “Film terbesar yang tak mungkin terulang lagi!”  

g30-s-aiditFilm ini juga patut diacungi jempol lantaran kaya akan detil. Setting-nya berpindah-pindah dari Istana Bogor dan ke rapat-rapat gelap PKI, lalu ke rumah para jenderal yang diculik, lalu ke Lubang Buaya. Kisah juga diselingi suasana hidup susah di tahun 1960-an seperti gambaran rakyat antri beras. Kerawanan politik masa itu digambarkan lewat guntingan koran, berita radio, dan komentar-komentar tajam masyarakat. Poster Bung Karno muncul di sana-sini, dan tulisan Manipol Usdek bertebaran di tembok dan atap rumah.

Beralih ke soal teknis penggarapan, Arifin telah melakukan tugasnya dengan baik. Ia meramu filmnya bergerak cepat dan terasa genting setiap saat. Durasi lebih dari 4 jam tidak terasa kepanjangan. Alur filmnya tak kalah dengan sebuah thriller politik menegangkan.

Apalagi bila kemudian menyoroti ilustrasi musik Pengkhianatan G30S/PKI. Kepada adiknya, Embie C. Noer, yang jadi direktur musik film itu, seperti dimuat Tempo, 7 Oktober 2007, Arifin mendeskripsikan filmnya dengan sangat singkat, “Ini film horor, Mbi.”

Embie menerjemahkan horor dengan sangat tepat. Di film ini ilustrasi musik tidak jadi tempelan, justru malah memperkuat narasi gambar. Suasana malam mencekam sudah jamak muncul di film bergenre horor. Tapi, tidak ada yang rasa mencekamnya melebihi Pengkhianatan G30S/PKI.

Musiknya tidak menggedor jantung seperti film-film horor kita saat ini yang bisanya cuma bikin kaget. Melainkan seperti mengiris jantung sedikit demi sedikit. Membuat kita ingin menutup kuping dan mata karena tak kuat lagi jantung diiris-iris.          
 
Sewaktu kecil, saya tak pernah nonton film itu sampai habis waktu tayang di TVRI. Biasanya saya pergi tidur saat filmnya dipotong Dunia Dalam Berita. Tapi dari kamar saya yang dekat dengan ruang TV, teror film itu masih mengejar. Teriakan, rintihan, atau suara laras senapan masih terdengar menembus pintu kamar.    

g30sDari balik pintu kamar, saya masih mendengar potongan-potongan dialog filmnya.
 
“Tidak usah mandi, jenderal.”

“Paling tidak cuci muka, toh dan berpakaian.”

“Tidak usah berpakaian.”

“Lancang kalian.”

“Bidik!” TRATATATATAAT....

“Mana Nasution?”

“Saya Nasution.”

“Penderitaan itu pedih jenderal… sekarang coba rasakan sayatan silet ini. Juga pedih.”

“Bukan main wanginya minyak wangi jenderal. Begitu harum sehingga mengalahkan amis darah sendiri.”

“Teken, jenderal. Teken!”

Arifin telah mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Ia berhasil membuat film yang dimaui pemesan (baca: Orde Baru) tapi di saat bersamaan mencipta film yang enak diikuti, pesannya sampai (meski isinya propaganda penuh kebohongan), tidak bikin bosan, dan dikenang terus hingga kini.

Mudah mengatakan bahwa film ini dikenang terus dan mengendap dalam ingatan kolektif kita karena Orde Baru telah mewajibkan film ini diputar saban tahun sejak filmnya pertama edar tahun 1984.

g30-s-rapat-PKITapi saya sih percaya alasannya tidak semata itu. Tangan dingin Arifin sangat berperan besar membuat film itu sukses. Pengkhianatan G30S/PKI awalnya berasal dari cerita resmi versi Orde Baru yang disodorkan dalam bentuk cerita oleh sejarawan kepercayaan Soeharto, Nugroho Notosusanto. Dari cerita Nugroho, Arifin kemudian mengubahnya jadi skenario. Nah, di sini kejeniusan Arifin bekerja.

Lewat Pengkhianatan G30S/PKI, Arifin—yang berkali-kali memenangkan FFI untuk penulisan skenario—telah mencipta naskah yang tidak saja menghasilkan film berdurasi luar biasa panjang jadi asyik diikuti, mampu menyampaikan pesan sang pemesan (meski isinya propaganda dan kebohongan), menebar ketakutan pada penontonnya, melainkan juga mencipta dialog-dialog yang terus diingat hingga kini. Arifin telah menambahkan frasa-frasa kutipan film pada budaya pop kita semacam: “Jawa adalah kunci”, “Hari H dan djam D”, “Darah itu merah jenderal.”

Arifin juga berhasil menghadirkan gambar-gambar yang mampu meneror dan menghantui kita hingga kini. Siapa yang bisa lupa saat Al-Quran dicelurit PKI; rapat-rapat gelap PKI yang penuh asap rokok; Ade Irma Suryani ditembak; wajah Nasution sebelum meloncat dari jendela; anak DI Pandjaitan yang berlari merengkuh darah yang tumpah di jalan depan rumah lalu membasuhnya ke wajah sambil histeris; atau, tentu saja, adegan sadis penyiksaan; wajah disilet, tangan disundut rokok, badan ditusuk golok, dipukul kayu, hingga diberondong peluru; dengan dilatari nyanyian “Genjer-genjer” dan teriakan “Bunuh! Bunuh!”

Tak terbantahkan, Arifin telah mencipta “film terbesar yang tak mungkin terulang lagi!”      

(ade/ade)

Catatan:
Rasanya sulit membayangkan TV sekarang memutar lagi Pengkhianatan G30S/PKI. Tapi, bagi yang ingin bernostalgia atau mungkin belum pernah menontonnya, bisa menontonnya di You Tube. Di situ filmnya diunggah lengkap terbagi sampai 24 bagian.