10 Adegan Film Paling Dikenang Era 2000-an (IMHO, lho!)


10 Adegan Film Paling Dikenang Era 2000-an (IMHO, lho!)

aadc
Ist.
TABLOIDBINTANG.COM -

APA adegan film Indonesia paling Anda kenang sepanjang masa? Bagi saya, pria kelahiran 1980-an, yang paling saya kenang adalah adegan setan Sundel Bolong makan sate. Saya lupa pertama kali menontonnya di mana—entah di layar tancap dekat rumah saat tetangga hajatan waktu saya kecil, atau saya menontonnya di video VHS, atau malah di TV. Entah, saya lupa persisnya. Yang pasti saya ingat adegannya. Dan belum lama ini, saya menemukan potongan adegan itu di You Tube.
Kira-kira adegannya begini, Sundel Bolong datang ke warung sate. Dua pedagangnya yang tengah tidur, dilempar beberapa plastik emping. Dua pedagang sate kontan bangun.

Lalu terjadilah adegan berikut:

“Beli apa, Nya?”

“Sate. 200 tusuk. Makan di sini.”

Tak sabar menunggu. Mengambil piring, mengisinya dengan sate. Semuanya ditumpuk.

“Mentah, jeung.”

"Biarin! Mentah juga enak."

Dimakan dengan cepat, Sisa kecap mengotori pipinya.

“Soto. Sama pancinya.”

Soto diseruput langsung dari pancinya. Dua penjualnya menyingkir, mengintip dari belakang siapa sebenarnya pembelinya malam itu.

“S-S-Sun-Sun-Sundel-Sundel-Sundel-Bolong-Sundel-Boloooooong!!”

Sumpah, saat melihatnya sekarang, alih-alih ngeri, saya malah senyum-senyum. Usai menonton itu, saya mencoba mengingat-ingat adegan-adegan film yang paling saya kenang dalam sepuluh tahun terakhir. Ya, cukup 10 tahun saja. Saya tak terlalu banyak menonton film-film jadul. Ada banyak yang lebih ahli dan tahu untuk periode selain dekade 2000-an.

10. Paku kuntilanak (Findo HW, 2009), payudara Dewi Perssik (apa lagi!)

Entah bagaimana hal ini bisa terjadi. Pihak penyensor mengatakan, bagian itu sudah digunting. Namun, film yang beredar di bioskop jelas-jelas memerlihatkan buah dada Dewi Perssik yang ranum dan terbuka jadi tontonan. Orang jelas jadi penasaran, apa benar begitu. Cerita filmnya lantas jadi tak penting. Adegan tak sampai sekejap itu yang kemudian jadi tujuan orang nonton. Memang, ini strategi marketing yang tercela. Tapi, bagi Anda yang tak mempan dengan kiat pemasaran busuk itu, bisa kok menontonnya di You Tube. Gratis lagi.

9. Mereka Bilang Saya Monyet (Djenar Maesa Ayu, 2008), adegan terakhir 

Djenar Maesa Ayu, penulis yang menjajal jadi sineas, merendengkan semua tokoh dalam kisahnya pada satu satuan waktu, hanya beda ruang. Ini meruntuhkan pengetahuan penonton yang berpikir tahu segalanya sepanjang film. Yup, Djenar really fucked your mind. Silakan lihat di sini

8. 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim, 2008), Dian Sastro berlaga disorot kamera

Saya mengaku, urutan yang ini didasarkan semata pada naluri kelelakian saya. Dian Sastro saat disorot kamera dengan balutan rok ketat dan bibir menor plus gaya kampungannya, terus terang, membuat jakun saya turun naik. She’s so hot on that moment. ‘nuff said.

7. Gue Kapok Jatuh Cinta (Awi Suryadi & Thomas Nawilis, 2005), kamera memutar

Awi Suryadi termasuk sutradara yang menguasai banyak kosa kata film dan punya kecerdasan menggunakannya. Ini contohnya. Saat dua sejoli berpelukan dan ada yang nyeletuk yang kira-kira isinya, kalau di film Hollywood ada kamera memutari mereka. Eh, kamera betulan disorot memutar. Saya senyum-senyum dan kagum sekaligus.

6. Pocong II (Rudi Sudjarwo, 2006), "Ringgo" mencumbu Revalina

Saat tokoh yang diperankan Ringgo hendak mencumbu kekasihnya yang diperankan Revalina, saya sudah hendak terbawa emosi oleh adegan seks yang akan tersaji. Tapi, kemudian, telepon genggam Reva menyala. Di layar ada nama Ringgo memanggil. Lho, terus yang akan mencumbunya itu siapa… Pembelokkan yang demikian efektif dari horny ke kaget bin ngeri benar-benar berhasil di sini.

5. Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008), Ikal kecil jatuh cinta dengan bunga-bunga bertaburan

Riri Riza berhasil membangun gambaran jatuh cinta yang konyol, jenaka, sekaligus manis. Ekspresi Ikal dan bunga-bunga yang bertebaran membuat Anda pasti tak tahan untuk tidak bilang, “Ciiiiieeehhh….” Ayo, ngaku!

4. Rumah Dara (Mo Brothers, 2010), “ENAAAAAKKANNN…?!

Beberapa kali, hati saya mencelos. Jantung rasanya mau copot. Mo Brothers membuat kita bangga kalau sineas kita juga bisa membuat film slasher yang tak kalah seru dari bikinan Hollywood. Puncak ketegangan filmnya, buat saya, saat Ibu Dara (Shareefa Danish) mengangkat gergaji mesin sambil berteriak, “ENAAAAKKANNN…?!”

3. Naga Bonar Jadi Dua (2007, Dedy Mizwar), Naga Bonar di patung Sudirman

Sebenarnya, tanpa adegan ini, filmnya akan baik-baik saja. Tapi mungkin, Dedy Mizwar, sutradaranya, butuh memberi pesan yang serba verbal pada kita. Maka, berdeklamasi-lah ia (si Naga) tentang bagaimana penghormatan sang patung Jenderal Sudirman menghadap ke deretan gedung di Jl. Thamrin berarti penghormatan pada yang berpunya. Hm, pemaknaan yang jeli dan jitu. Berani taruhan, pemerintah yang membuat patung itu pasti tak berpikir sampai ke situ.

2. Gie (Riri Riza, 2005), Soe Hok Gie dan Soekarno

Di istana, Soe Hok Gie (diperankan Nicholas Saputra) bertemu Soekarno dan berjabat tangan. Bung Karno bercanda kalau jas Gie tak pas. Tapi bukan itu momen utama filmnya buat saya. Melainkan, saat Gie mandi dan adegan silih berganti dengan Bung Karno, di usia senja, sendirian di istana. Tatapannya menerawang. Lalu, satu per satu lampu istana mati. Itulah bahasa film untuk menjelaskan sirnanya kekuasaan Bung Karno, sang pemimpin besar revolusi.

1. Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2001), puisi di kafe

Film ini punya banyak adegan dan dialog yang tak bisa lekang dari ingatan generasi 2000-an. Ingat ini, “Saya setuju. Kita nggak usah berhubungan lagi.”; atau yang ini, “Salah gue? Salah temen-temen gue?” Namun, saya paling berkesan saat Cinta berpuisi di depan Rangga. “Aku lari ke hutan/kemudian menyanyiku… Pecahkan saja gelasnya biar ramai/biar mengaduh sampai gaduh… Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?”

NB: O ya, ini link di YouTube saat Sundel Bolong makan sate.

(*tulisan ini pernah dimuat di blog penulis.)