Cerita di Balik Kekisruhan FFI 2010

ffi_dlm
TABLOIDBINTANG.COM -

TERLEPAS dari siapa pemenangnya Senin (6/12) malam ini, catatan ini kami susun untuk mengingatkan, tahun ini Festival Film Indonesia (FFI) mengulang sejarah.

Kisah di Batam dimulai dengan serangan balik Jero Wacik (61) terhadap Masyarakat Film Indonesia (MFI). Menteri murah senyum ini menyindir, “Saya diadukan ke Mahkamah Konstitusi. Sepertinya sekelompok itu ingin menerapkan paham liberal. Mereka minta Lembaga Sensor Film (LSF) dibubarkan, mendemo UU Perfilman yang baru. Saya tegaskan, saya akan selalu ada di posisi terdepan ketika ada yang meminta LSF dibubarkan.”

Lontaran ini diucap Wacik dalam konferensi pers jelang pengumuman nominasi. Menurutnya, keberadaan LSF harus diperkuat. Silakan mengkritik film Indonesia yang tidak bermutu. Tapi, Jero punya cara sendiri memajukan film Indonesia. “Mempertahankan LSF adalah cara saya!” tegasnya.

Kronologis berlanjut ketika Jero dicecar pertanyaan mengapa Sang Pencerah (SP) tidak lolos seleksi. Jika film mengkhianati fakta sejarah, mengapa Tjoet Nja Dhien versi Christine Hakim dan Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsisi dilirik juri FFI kala itu? Untuk yang satu ini, Jero berkelit.

“Urusan penjurian, saya tidak pernah dan tidak mau mempengaruhi sudut pandang juri. Biar Komite FFI dan juri bekerja sesuai prosedur. Saya tidak mau komentar.” Entah apa yang terjadi dalam semalam. Sabtu (27/11), nyaris tidak ada yang janggal. Keesokan harinya, dalam acara Dahsyatnya Batam semua harapan terbang melayang. Tidak ada pengumuman nominasi.

sang-pencerah3Ada Yang “Menyusup” di Daftar Nominasi
Yang ada, penundaan pengumuman nominasi sampai 3 Desember. Alasannya, ada satu film yang tidak lolos seleksi, tapi masuk dalam daftar nominasi. Film apa yang tak lolos seleksi tapi masuk nominasi? Siapa yang lancang memasukkan film yang tak lolos seleksi ke dalam daftar nominasi? Dua pertanyaan Bintang dijawab Wakil Ketua KFFI, Alexihar dengan gaya diplomatis.
“Kami tidak tahu. Karena daftar nominasi terbungkus amplop,” jawabnya ringkas. “Tersangka” yang menyusup dalam daftar nominasi, bisa jadi SP. Alex enggan mengiyakan. Sayangnya, Alex dan Deddy Mizwar sebagai narasumber kurang kompak.

“Lho, tadi sudah saya bilang, kan kalau film lain yang masuk ke daftar nominasi itu SP?” tanya Jenderal Nagabonar disambut sorak sorai wartawan. Sepertinya, Deddy keceplosan.

Lucunya, desas-desus yang beredar di Batam menyebut, Viva Westi dilarang berbicara sampai malam puncak FFI selesai digelar. Dugaan lain, langkah Westi “menjegal” SP adalah bentuk serangan balik dari kubu Nayato. Spekulasi yang beredar, Westi dan Nayato teman dekat. Mereka beberapa kali terlibat dalam satu produksi.

Sebut saja 18+, Putih Abu-abu dan Sepatu Kets, Affair, Belum Cukup Umur, dan terakhir Gaby dan Lagunya. Empat tahun silam, Ekskul yang terlanjur digelari Film Terbaik dicopot karena kedapatan mencomot musik scoring film luar negeri. Konon, sekaranglah saatnya “menuntut balas.” Isu ini pun sumir. Jika mau menuntut balas, mengapa karya Hanung yang dijadikan umpan?
Bintang mencoba menghubungi Westi lewat ponsel. Meminta penjalasan soal spekluasi yang kadung merebak serta apa yang sebenarnya tengah terjadi. Westi tak merespons. Malam itu, di Batam, ia sempat menyapa kami. Ia hanya meminta maaf. “Mas, apa kabar? Maaf ya, waktu itu enggak bisa memberi jawab,” ujarnya sembari terburu-buru masuk lift. Suasana bertambah seru ketika Roy Marten ikut “bernyanyi”.

Roy meminta FFI berkaca pada perfilman Hollywood. “Sepertinya, tiap tahun Oscar selalu punya tema. Misalnya, antiperang. Kebanyakan film yang masuk nominasi bertema antiperang. Kalau SP tidak masuk, jelas itu menjadi pertanyaan besar. Saya menduga, juri lalai! Pengumuman seleksi 8 film lalu diralat jadi 10 saja sudah menunjukkan kelalaian,” demikian Roy berpendapat. SP setidaknya bisa mengantongi dua nominasi untuk Tata Artistik dan Akting.

Sempat muncul wacana, jika merasa “bersalah”, juri diperkenankan memberi Special Prize Award. “Wacana Special Prize untuk SP sudah muncul beberapa bulan lalu. Sayang, juri bersikeras tidak mau,” Deddy menukas, gemas. Noda lain dalam FFI tahun ini, munculnya skandal pelecehan seksual salah satu artis FFI, Robby Shine. Bintang film Genderuwo dikabarkan melakukan pelecehan seksual pada Sabtu (27/11) malam, saat yang lain sibuk menghadiri gala dinner.

Deddy tampak kaget saat salah satu wartawan meminta konfirmasi kasus ini. “Jadi begini, ya di jadwal acara yang saya terima kemarin, tidak tercantum agenda pelecehan seksual,” kata Deddy mencoba bersabar. Koordinator Bidang Festival, Labes Widar memperkuat bantahan Deddy. “Sejauh ini saya belum menerima laporan tentang pelecehan seksual. Itu hanya isapan jempol belaka.”

g30-s-rapatPKI2Sejarah Berulang
FFI 2010 mengulang sejarah FFI 26 tahun silam. Kala itu, malam puncak FFI 1984 berlangsung di alun-alun Yogyakarta. “Pada waktu pengumuman seleksi 15 besar, film Cinta Di Balik Noda (CDBN) tersingkir. Jelang malam puncak, mendadak juri ingat ‘sesuatu’, lantas CDBN dimasukkan. Masyarakat dan pers bertanya. Tanya itu terjawab pada malam puncak. CDBN memenangi Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Meriam Bellina,” kenang pengamat film Yan Widjaya.

Mer yang masih 19 tahun menyingkirkan Christine Hakim dalam Ponirah Terpidana dan Jenny Rachman (Budak Nafsu) yang lebih diunggulkan. Bayangkan, andai juri waktu itu benar-benar lupa, akting Mer yang memorable tidak akan pernah dikenang orang. Kejutan tidak berhenti sampai di situ.

“Film Terbaik diumumkan Menteri Penerangan Harmoko. Saat itu, Harmoko menerima amplop nama pemenang dengan bangga sekali. Ia berjalan menuju panggung. Yang terjadi kemudian, amat memalukan. Harmoko menerima amplop kosong. Dari lima nominasi, tidak ada yang pantas menjadi film terbaik! Akhirnya dia berkata: Film Terbaik adalah… tidak ada!” sambung Yan. Padahal, kandidat terkuat saat itu, Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Yang dituding menjadi biang keladi tentu ketua dewan juri FFI. Dialah Abdurahman Wahid alias Gus Dur! “Waktu itu, Gus Dur bersikeras tidak ada film yang baik tahun ini. Harmoko marah besar. Dia merasa dipermalukan di muka publik. Maju ke atas panggung hanya untuk membuka amplop kosong,” lanjut Yan. Padahal, lima nominasi telah dipilih: Budak Nafsu, Pengkhianatan G 30 S/PKI, Ponirah Terpidana, Sunan Kalijaga, dan Yang (Terlarang, Tersayang).

Seperti halnya tahun ini, FFI 1984 juga “sukses” membukukan kasus krimimal. “Seingat saya, Zainal Bintang kehilangan uang jutaan rupiah. Entah siapa yang mengambil uang. Keamanan sangat dipertanyakan,” pungkas Yan. Kisruh FFI benar-benar pengulangan sejarah. Mulai dari munculnya nominasi tambahan sampai kasus kriminal. Haruskah sejarah berulang? Atau para pemangku kepentingan film Indonesia malas belajar sejarah? Jika kemungkinan kedua yang tergenapi, alangkah lucunya festival film negeri ini.

(wyn/ade) {JaThumbnail off}