Pengejar Angin (Dapunta), Ketika Penerus Bajing Loncat Memilih Kuliah


Pengejar Angin (Dapunta), Ketika Penerus Bajing Loncat Memilih Kuliah

Dapunta-pa-ist
Dapunta ingin mengubah nasib. (dok.FB Pengejar Angin)
TABLOIDBINTANG.COM -

FILM ini mengambil lokasi di sebuah kampung di daerah Lahat, Sumatra Selatan.

Berkisah tentang Dapunta (Qausar Harta Yudana), pelajar yang hampir lulus SMA. Seperti kebanyakan anak sekolah, Dapunta ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun impian ini ditentang ayahnya (Mathias Muchus). Sang ayah yang merupakan pemimpin Bajing Loncat, kawanan perampok di daerah Sumatra Selatan, ingin Dapunta melanjutkan jejaknya; memimpin Bajing Loncat. Di sisi lain, bunda (Wanda Hamidah) selalu mendukung keinginan Dapunta, meski tak berani menentang suaminya.

Kecerdasan dan kegigihan Dapunta disadari betul oleh Damar (Lukman Sardi), salah satu guru di sekolah Dapunta. Damar selalu bersemangat membantu Dapunta. Ia berniat mengirim Dapunta ikut lomba matematika di Jepang. Sayang, ayah Dapunta tidak merestui. Belum lagi masalah biaya. Mahalnya biaya hidup selama di Jepang kian menyulitkan langkah Dapunta.

pengejar-angin

Hal ini masih ditambah dengan kehadiran Yusuf (Giorgino Abraham), teman sekelas Damar yang juga anak kepala desa. Yusuf yang iri dengan prestasi Dapunta, selalu berusaha mematahkan langkah bocah bersahaja itu.

Suatu hari, datanglah Coach Ferdy (Agus Kuncoro), teman Damar dari Jakarta yang hendak mencari atlet baru untuk diikutkan dalam SEA Games. Damar meyakinkan Ferdy bahwa Dapunta memenuhi kriteria atlet yang dicari Ferdy. Dapunta juga mendapat dukungan dari Nyimas (Siti Helda), gadis cantik yang dikaguminya.

Mampukah Dapunta mewujudkan mimpinya?

***

Film Pengejar Angin adalah produksi Putaar Production dengan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan. Jadi selain setting-nya di Sumatera Selatan, jangan kaget jika Anda melihat sosok Alex Noerdin yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Dibuat untuk media promosi Sumatera Selatan, tidak lantas mengekspos hal-hal yang baik saja. Sutradara Hanung Bramantyo dengan berani mengangkat kelompok preman Bajing Loncat.

Meski pemain muda mendominasi cerita, sosok ayah Dapunta yang diperankan Mathias Muchus lebih mencuri perhatian. Mathias tampil prima sebagai sosok ayah yang dingin, sekaligus pemimpin bajing loncat yang disegani. Dalam beberapa adegan, pria berusia 54 tahun terlihat piawai melakukan adegan laga.

Chemistry yang dibangun Mathias dengan Qausar, pemeran Dapunta, cukup menggetarkan. Meski keduanya memiliki tujuan hidup berbeda, terlihat rasa sayang dan tak ingin saling menyakiti antara mereka. Terasa sekali ikatan batin antara ayah-anak ini.

Jajaran pemain muda diisi “artis-artis” Hanung. Qausar, pemeran Dapunta, sebelumnya pernah mendapat arahan Hanung ketika membintangi Sang Pencerah. Demikian juga Giorgino, pemeran Jusuf, yang sebelumnya bermain Tendangan Dari Langit dan FTV Hanung di Trans TV.

Yang cukup mengecoh mungkin posternya. Ketika pertama melihat posternya, saya mengira Pengejar Angin adalah film laga. Dari jauh, kesan suram dari poster malah tampak seperti film horor. Padahal, menonton Pengejar Angin justru terasa hangat, melihat optimisme dan semangat seorang putra daerah yang berjuang meraih mimpi, serta mengatasi rintangan yang dihadapinya.

(ray/ade)