Hari Untuk Amanda


Hari Untuk Amanda

Adegan film Hari untuk Amanda (foto: Dok. MNC Pictures)
TABLOIDBINTANG.COM -

Amanda (Fanny) gelisah. Sepuluh hari lagi ia melangsungkan pernikahan dengan Dody (Reza). Menjelang hari bahagia mereka, calon suami tidak mau tahu semua pernak-pernik pernikahan. Seharusnya Dody menemaninya mengantar surat undangan. Seharusnya Amanda dan Dody fitting baju pengantin bersama. Seharusnya Dody mendampinginya memilih menu makanan. Dan masih banyak seharusnya lainnya. Amanda mencari teman untuk mengantar undangan. Pilihannya jatuh kepada Hari (Oka), sang mantan yang telah memacarinya delapan tahun lebih.

Hari telah banyak berubah. Jika ada yang tidak berubah, adalah cara Hari memahami Amanda. Beberapa kali Amanda mengantar undangan didampingi Hari, beberapa kali pula Hari disangka calon suaminya.

Puncaknya, saat Amanda dan Hari mengantar undangan ke sekolah mereka dulu. Perputaran kenangan dan konflik-konflik masa lalu terurai di kelas mereka. Hari tidak lupa pada janjinya membuat lampion untuk Amanda bertuliskan lirik lagu favorit mereka. Dody semakin menjengkelkan, sementara Hari terlihat meyakinkan, Amanda bertanya dalam hati. Pilih cinta pertama atau cinta terakhir?

Hanya butuh tiga karakter untuk menghidupkan cerita ini. Jika departemen kasting ceroboh memilih nama, Hari Untuk Amanda (HUA) akan menjadi cerita monoton dan membosankan. Apalagi, jika penata sinematografi, artistik, dan sutradara kurang mahir membingkai gambar.

Pilihan pada Fanny-Oka-Reza tidaklah keliru. Oka bermain lepas. Berusaha mengeluarkan pesona lajangnya meski dalam kehidupan nyata, status Oka tidak lagi lajang. Dari arah berlawanan, Reza mengimbangi dengan sifat antagonis. Intinya, hampir sama saat mereka berhadapan dalam Perempuan Berkalung Sorban.

Bedanya, menjelang akhir cerita ada perpindahan posisi Hari dan Dodi. Tidak menguntungkan semua pihak, namun menempatkan Amanda dalam posisi paling realistis sekaligus logis.

Tak ada yang istimewa dari elemen teknis. HUA bertumpu pada kekuatan cerita dan aura kebintangan para pemainnya. Gina bertutur lincah. Tidak menempatkan kisah cinta Amanda di awang-awang, melainkan mendekatkan Amanda kepada penontonnya. Sama seperti setiap kisah cinta di muka bumi ini, selalu memiliki lagu kenangan, maka Angga memberi sentuhan yang sama.

Coba Anda rasakan ketika konflik Hari-Amanda menuju klimaks, lalu sayup-sayup terdengar “Tak Kan Pernah Bisa” milik Alexa. Scene ini begitu menyentuh. Dengan cerita yang begitu memikat, harusnya HUA lebih berani berkumandang dari segi promosi.

Sayang, poster filmnya mengingatkan kami pada poster sinetron-sinetron di dekade ‘90-an. Terlalu standar dengan tagline klise: cinta lama bersemi kembali. Mengingatkan kami pada reality show yang kurang real. HUA bertutur lebih dari sekedar cinta pertama yang bersemi kembali. Tapi bagaimana Amanda menemukan sisi terkuat cinta terakhirnya yang begitu lemah.

(wyn/gur)