Akan Seperti Apa (dan Bagaimana Seharusnya) Indosiar Baru?


Akan Seperti Apa (dan Bagaimana Seharusnya) Indosiar Baru?

indosiar-1
TABLOIDBINTANG.COM -

PERSAINGAN antar-stasiun TV swasta semakin ketat. Akankan Indosiar bisa kembali berjaya?

Indonesia memiliki 10 stasiun TV swasta nasional. Bahkan negara maju seperti Amerika Serikat atau Korea Selatan saja, tidak punya TV swasta nasional sebanyak ini. Bagi pemirsa TV, tentu hal ini menjadi keuntungan. Tanpa perlu berlangganan TV berbayar, sudah ada 10 TV swasta nasional tersedia. Belum lagi ditambah TVRI dan TV lokal / berjaringan yang belakangan tumbuh subur.

Namun bagi pihak pengelola, harus semakin jeli dan pintar membaca selera penonton. Tiap minggu, bahkan tiap hari, posisi TV nomor 1 bisa berubah. Kalau tak gerak cepat mengikuti tren, ya siap-siap saja ditinggal penonton.

Indosiar, mungkin salah satu TV yang masuk kategori terakhir. Pernah menjadi TV nomor 1 dengan acara unggulan seperti AFI (Akademi Fantasi Indosiar), sinetron Tersanjung, serial Taiwan Meteor Garden, dan lain-lain, kini posisinya sedang terpuruk. Indra Yudhistira, Direktur Produksi Indosiar mengatakan, saat ini TV
berlogo ikan terbang ini menempati posisi 6. Tak hanya rendah secara rating Nielsen, imej Indosiar kerap menjadi bulan-bulanan di dunia maya. Ya, FTV dan sinetronnya yang menampilkan naga dan elang terbang, dangdutan ala film India, membuat stasiun TV ini dipandang sebelah mata oleh kalangan atas / berpendidikan.

“Ada stigma yang beredar di media sosial, sinetron Indosiar ada Batman-nya. Ini yang ingin kami ubah. Indosiar ingin bangkit,” ujar Indra saat kami temui Rabu (10/10) sore. Pecinta sinetron tentu tahu, Batman yang dimaksud adalah karakter Jayapati dalam sinetron Tutur Tinular versi 2011 yang tamat beberapa bulan lalu.

Indra mengatakan mulai Januari 2013, Indosiar rebranding. Apakah tayangannya akan tetap menyasar kalangan BCD seperti sekarang? Mantan Direktur Program dan Produksi Kompas TV ini memang belum mau menjabarkan detail perubahan Indosiar baru. Namun pria berkacamata ini memberi sedikit petunjuk. “Kami akan perkuat program in-house. Indosiar dulu kaya dengan in-house production. Ada AFI, Mama Mia, dan lain-lain. Kami mau mengembalikan kejayaan masa itu,” urainya kepada tabloidbintang.com.

Indra mengumumkan, Indosiar telah mengantongi izin franchise talent search The Voice. “Ini program besar, setara dengan Indonesian Idol. Anda bisa baca Indosiar sedang mengarah ke mana,” ungkapnya.

Peningkatan program produksi in-house sebenarnya sudah mulai bergema sekarang. Take Me Out Indonesia saat ini sedang dalam tahap pendaftaran. Galaxy Superstar season 2 segera dibuat. Pun demikian The Voice Indonesia, yang rencananya dimulai Januari 2013. “Kami akan menjadikan program in-house sebagai backbone,” jelasnya.

Sebuah konsep yang menarik. Saat ini memang tak banyak stasiun TV yang berani mengandalkan program in-house. Karena jika dilihat dari rating, dominasi sinetron belum terpatahkan. Coba tengok rating top 10 harian. Didominasi sinetron tayangan RCTI, MNCTV, dan SCTV. Kalau pun ada program non-drama yang masuk top 10, biasanya hanya Opera Van Java dan On The Spot.

Program in-house, khususnya talent search, sebenarnya juga tak bisa dianggap remeh. AFI, Mama Mia, dan Stardut milik Indosiar pernah berjaya di masanya. Sementara dari stasiun TV lain, ada Indonesian Idol, KDI, Indonesia Mencari Bakat musim 1, yang pernah merasakan jadi tayangan nomor 1.

Namun tak semuanya sukses. Kalau dilihat dari segi rating, perolehan Indonesia’s Got Talent dan Galaxy Superstar tidak seberapa bagus.

Langkah Indosiar memperkuat program in-house sebenarnya justru kebalikan yang dilakukan stasiun TV swasta lain. Tengoklah Trans TV, yang bertahun-tahun kuat dan bangga dengan program in-house, mulai pekan ini mengisi slot primetime dengan FTV produksi Multivision Plus. Malah, Indonesia Mencari Bakat musim baru yang menampilkan Syahrini sebagai juri, tidak tayang di primetime.

Global TV yang sempat banyak menayangkan variety show, game show dan film Hollywood, mulai akhir bulan ini menggandeng MD Entertainment untuk tayangan sinetron stripping yang dibintangi Chelsea Olivia dan Randy Pangalila di slot primetime.

Kalau dilihat dari rating, penggemar sinetron memang banyak dan setia namun terpecah ke beberapa stasiun TV. Penggemar program non-drama mungkin lebih sedikit. Tapi kalau semuanya berhasil dirangkul Indosiar, tentu akan sangat luar biasa.

Image Indosiar yang belakangan identik dengan sinetron dangdut naga terbang, sebenarnya memiliki penonton setia. Slot pukul 08.00 WIB, diisi FTV dangdut yang sudah diulang berkali-kali, tapi sharenya tetap tinggi di kisaran 18. Demikian juga sinetron stripping pagi Bukan Salah Takdir, yang belakangan share-nya stabil di atas 20, menjadi acara tertinggi di jam 10.00-12.00 WIB. Beberapa sinetron malam TV lain saja sulit menembus 20 besar, eh, sinetron dangdut yang tayang pagi ini malah beberapa kali masuk 15 besar.

Kalau nantinya sinetron model ini terhapus, maka Indosiar harus siap kehilangan penonton segmen tersebut. Bagaimana pun, tidak banyak stasiun TV yang menyediakan tontonan ajaib seperti ini. Memang, FTV pagi dan siang MNCTV juga ada yang dangdutan dan memakai elang terbang. Tapi, percayalah, image dan ratingnya tidak sekuat FTV Indosiar, yang diproduksi Gentabuana Paramita.

Well, bukan berarti pesimis, lho. Siapa tahu setelah rebranding, share-nya malah lebih tinggi?

Lalu bagaimana dengan drama Korea yang juga sudah melekat dengan Indosiar? “Korea akan tetap jadi bagian dari Indosiar,” beritahu Indra. Jadi, penggemar drama Korea boleh bernafas lega. Tapi penggemar sinetron dangdut dan fantasi, mungkin masih harap-harap cemas.

Kok sepertinya tulisan saya memihak FTV dangdut dan fantasi? Bukannya memihak, sih. Tapi saya memang penikmat produk Gentabuana. Apalagi kalau lead-nya Ahmad Affandy dan Imel Putri Cahyati.

Ah, kok saya malah curhat. Apapun itu, semoga sukses buat Indosiar Baru!

(ray/adm)