Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?


Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?

Komik Sri Asih dan poster Rama Superman Indonesia (dok Istimewa)
TABLOIDBINTANG.COM -

MUNGKIN Anda malah balik bertanya, memangnya kita pernah membuat film superhero? Pernah, dong. Malah saat umur perfilman nasional masih balita setelah penyerahan kedaulatan penuh Belanda di tahun 1949. Lima tahun setelah merdeka penuh, kita membuat film superhero pertama.


Film superhero pertama yang kita bikin kira-kira punya cerita begini (karena copy filmnya sudah tak ada lagi): Karena ayahnya sakit keras di Semarang, Sri Asih tak sempat pergi. Ia hanya mengantar ibunya ke stasiun. Setelah kereta berangkat, Sri Asih mendengar bisikan, kereta akan meledak, karena dipasang dinamit oleh komplotan jahat. Sri Asih lalu menggunakan jimatnya. Ia berubah, bisa terbang dan melesat gesit. Dinamit sempat dibuang dan meledak di sungai, walau sebelumnya ia harus menghadapi perlawanan dari para bandit. Kemudian Sri Asih mengikuti gerombolan Garuda Hitam, dan berhasil menghancurkannya.

Itulah sinopsis yang ditulis JB Kristanto di buku Katalog Film Indonesia 1926-2007 (Nalar, 2006). Sinopsis dari film superhero Indonesia pertama berjudul Sri Asih rilisan 1954. Sutradaranya Turino Djunaedy dan Tan Sing Hwat. Bintang utamanya Mimi Mariani dan Turino sendiri. Produksi Gabungan Artis Film dan Garuda. Keterangan tambahan lain, film ini adaptasi dari komik.
 Komik yang dimaksud berjudul sama dengan filmnya, karya RA Kosasih. Pria yang disebut Bapak Komik Indonesia ini lebih dikenal dengan masterpiece-nya komik wayang Mahabharata dan Ramayana. Sebelum membuat dua judul itu, Kosasih membuat komik Sri Asih.

Komik Sri Asih terbit pertama kali tahun 1954 oleh penerbit Melodie, Bandung. Inilah komik Indonesia pertama yang muncul dalam bentuk buku. Sebelumnya, komik tampil bersama koran atau majalah. Komik ini berkisah tetang Sri Asih, wanita berkekuatan super pembasmi kejahatan. Secara misterius, Sri Asih akan muncul dengan cara melesat terbang bak roket untuk menegakkan kebenaran. Usai beraksi, ia pergi secara misterius pula. Aslinya, Sri Asih seorang wanita kikuk tapi cantik bernama Nani. Ia digambarkan sebagai sosok yang tak begitu cemerlang. Siapa Sri Asih asli tak pernah diketahui. Rekan kerja Nina, Sambas, tak pernah lelah mencari tahu identitas asli Sri Asih. Ia curiga Nina adalah Sri Asih, tapi tak pernah bisa membuktikannya.
Sri Asih adalah komik superhero lokal yang langsung mengingatkan kita “saudara”-nya di Amerika Serikat sana. Sri Asih tak lain gabungan Wonder Woman dan Superman, plus ramuan lokal (kostumnya mirip dewi khayangan).              

Kepopuleran komik Sri Asih di masa itu tampaknya menarik perhatian produser film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jadilah Sri Asih film superhero lokal pertama bikinan anak negeri sendiri.


II

DI TAHUN 1950-an saat Sri Asih lahir, Hollywood tidak sedang gandrung dengan film superhero. Cerita para pahlawan super sedang tersisih ke layar gelas. Di tahun ’50-an TV sedang booming sebagai media hiburan utama keluarga. Di Sabtu pagi anak-anak Amerika disuguhi serial superhero. Yang paling ngetop serial Adventure of Superman dengan bintangnya George Reeves yang mulai tayang pada 1952. Waktu itu, tradisi menonton film superhero bioskop di Sabtu pagi sudah ditinggalkan. Penyebabnya, mutu film superhero di bioskop tak bekembang. Padahal, kemunculan film superhero pertama di AS pada 1941 (Adventure of Captain Marvel) begitu disambut meriah. Film itu juga sempat memicu tren film-film superhero lain—termasuk versi layar lebar pertama Superman pada 1948 (diperankan Kirk Alyn).

Serial TV superhero lalu dipuncaki dengan hadirnya serial Batman & Robin dengan Batman diperankan Adam West dan Burt Ward sebagai Robin. Serial ini tayang pada 1966-1968 (kita di Indonesia menontonnya di awal 1990-an). Yang paling diingat dari serial ini adalah penggunaan ilustrasi onomatopeia mirip komik di adegan perkelahian macam Kapow!, Bang! sampai Kaboom!     Penggunaan onomatopeia menjadikan serial TV superhero mirip betul komik aslinya. Sayang serialnya kemudian tak berkembang. Apalagi saat umur penontonnya bertambah, serial itu terasa kekanak-kanakan.

Syahdan, di tahun 1973, produser film Alexander Salkind dan anaknya Ilya, punya ide mengangkat Superman menjadi film layar lebar besar. Setelah digodok selama 4 tahun lahirlah Superman: The Movie pada 1978. Richard Donner dibangku sutradara. Mario Puzo, pengarang The Godfather, jadi penulis cerita. Aktor besar Marlon Brando jadi ayah Superman, Jor-El. Sang manusia super sendiri diperankan aktor tak ternama saat itu, Christopher Reeve.

Kehadiran Superman: The Movie menandai lahirnya film superhero modern. Dari sini film superhero digarap serius. Bujet besar digelontorkan (55 juta dolar AS, angka besar di masanya). Efek spesialnya kelas tinggi di zamannya. Adegan Superman terbang sudah memakai blue screen. Jangan lupa pula ilustrasi musik bikinan Jerry Goldsmith yang spektakuler dan jadi musik tema klasik Superman. Hasilnya pun memuaskan. Orang banyak menyukainya. Film superhero bukan lagi tontonan anak-anak semata seperti serial TV tahun ’50 dan ’60-an atau film-film ‘tahun ’40-an.


III
 
MENARIKNYA, EMPAT tahun sebelum Superman: The Movie rilis—atau saat keluarga Salkind masih berjuang mewujudkan mimpi membuat film layar lebar superhero—kita sudah mendahului Hollywood. Pada 1974, sineas kita melahirkan Rama Superman Indonesia (sutr. Frans Totok). Kisahnya tentang Andi (Boy Shahlani), remaja penjaja koran yang mendapat jimat kupu-kupu emas. Bila jimat itu dicium, ia bisa berubah jadi superhero yang bisa terbang, berkostum bak Superman, bernama Rama (diperankan August Melasz).

Selang 7 tahun kemudian, sineas kita membuat Gundala Putera Petir (1981, sutr. Lilik Sudijo). Kisahnya seputar Sancoko (Tedy Purba), seorang ilmuwan, berubah jadi superhero bernama Gundala. Awalnya, Sancoko diam-diam menyuntikkan cairan anti petir. Hasilnya luar biasa. Tubuhnya jadi tahan arus listrik dan punya kekuatan super, berkat bimbingan gurunya Dewa Petir (Pitrajaya Burnama).

Film superhero lokal lahir berkat kepopuleran komik superhero di tahun ’70-an. Saat itu jagad komik kita disuguhi berbagai jenis komik berkisah superhero macam Gundala, Godam, dll. Sayangnya, versi film cerita superhero kurang diminati. Terbukti, sejak Rama, film superhero lokal hadir sesekali. Selain Gundala, ada Darna Ajaib (1980, Lilik Sudijo) yang berkisah tentang anak ajaib berkekuatan super. Lalu hadir pula Manusia 6 Juta Dollar (1981, Ali Shahab), versi Warkop DKI dari serial The Six Million Dollar Man, dan terakhir Gadis Bionik (1982, Ali Shahab) dengan Eva Arnaz sebagai versi lokal Bionic Woman. Sejak itu hingga kini, kita tak pernah membuat film superhero lagi.

Mengapa kita berhenti membuat film superhero? Bisa jadi karena film superhero lokal tak memberi pengalaman sinematis berarti pada penonton. Efek visualnya tak lebih tipuan kamera sederhana, yang tak banyak berkembang mirip serial TV Superman tahun 1950-an. Alhasil, orang jadi malas menontonnya. Buntutnya, filmnya tak laku. Dan kalau sudah tak laku, akan sulit mengharapkan ada produser lain membuat film sejenis. Padahal, ini budaya produser Indonesia sejak dulu. Sebuah film populer akan melahirkan epigon berupa film bergenre sejenis.Ya, di Indonesia, kebanyakan produser bersikap jadi “Pak Turut”. Satu film sukses diikuti serentetan ikutannya. Film horor tak henti-henti dibuat lantaran film jenis ini selalu mendatangkan untung.


IV
SEMENTARA ITU, di pertengahan 1980-an, Hollywood terlihat kehabisan energi pada film superhero yang pernah dibanggakannya. Kisah Superman dibuat sampai empat seri, tapi makin lama makin buruk kualitasnya. Seri keempat (Superman IV: Quest for Peace, l987) bikin kapok. Kritikus mencercanya. Fans membencinya. Efek khususnya dikatai culun. Film ini hanya memasukkan 15 juta dollar ke kocek produser.

Bedanya dengan produser kita yang mudah patah arang, Hollywood tak gentar melawan badai. Mereka mencari sosok superhero baru untuk dijual. Pilihan jatuh pada Batman sang manusia kalong. Pembesutnya bukan sutradara sembarangan, melainkan sosok nyentrik Tim Burton. Ia tak ingin membuat versi layar lebar dari Batman jadul. Batman versi Burton berkostum hitam (bukan ungu). Jalinan ceritanya pun rumit. Jika Superman tahun 1978 membuat orang dewasa suka film superhero karena efek khususnya keren, Batman keluaran 1989 diminati orang dewasa karena ceritanya tak sederhana lagi. Ada problem psikologis akut yang dialami tokohnya. Batman versi Burton tampil lebih gelap.

Cerita “gelap” dan tontonan dewasa di Batman versi Burton sesuai dengan semangat revisionis komikus AS di tahun ’80-an. Waktu itu, muncul gerakan untuk tak sekadar menjadikan komik bacaan anak dan remaja. Pencetusnya Allan Moore yang menelurkan Watchmen dan Frank Miller yang merevisi kisah Batman lewat The Dark Knight Return. Komik-komik superhero mereka tak ditujukan bagi anak-anak dan ABG, melainkan pembaca dewasa. Orang lantas lazim menyebut karya jenis ini novel grafis (graphic novel).

Nah, Burton terinspirasi Batman versi Frank Miller. Burton dipercaya membuat dua seri (Batman dan Batman Returns [1992]). Tapi kemudian Hollywood menganggap Batman-nya terlalu kompleks untuk film superhero. Meski masih mendatangkan untung, Burton tak diajak bikin film ketiga (Batman Forever). Giliran Joel Schumacher yang didapuk jadi sutradara. Batman versi Joel tak gelap. Film berikutnya, Batman & Robin (Joel Schumacher, 1997), malah makin dekat dengan versi Batman di awal kehadirannya: colourful dan ringan. Namun, kritikus mencerca keputusan ini. Film Batman ke-4 digelari Razzie Awards (Oscar-nya film-film buruk). Film superhero turun pamor jadi film kelas B. Banyak orang mengira era film superhero Hollywood tamat sampai situ.


V
TERNYATA TIDAK. Di dekade berikut, tahun 2000-an, film superhero malah menemukan zaman keemasannya. Awalnya adalah Marvel, saingan DC Comics, yang ikut terjun ke genre ini. Spider-man, produk Marvel Comics, tokoh rekaan Stan Lee, diangkat ke layar lebar pada 2002. Marvel membukukan kemenangan sebagai film superhero paling sukses saat itu. Spider-man (2002, Sam Raimi) laku 304 juta dollar di AS saja. Spider-man sukses lantaran kisahnya tak hanya soal perang kejahatan melawan kebaikan semata. Sang superhero (diperankan Tobey Maguire) juga punya persoalan personal yang sama beratnya dengan saat ia memberantas kejahatan. Di sini, superhero tampil lebih manusiawi.

Sukses Spider-man kemudian melahirkan lusinan film superhero. Hampir setiap tahun, utamanya saat musim panas, saat film-film berbujet besar rilis, film superhero pasti muncul. Spider-man dibuat sampai tiga seri. Begitu juga X-Men. Selain itu masih ada Fantastic Four, Hulk, Dare Devil, Elektra, Spawn, Ghost Rider, Hell Boy, Iron Man, dan lainnya. Ada juga yang tak diangkat dari komik macam The Incredibles, My Super Ex-Girl Friend atau Hancock.

Terakhir, Batman dan Superman dipermak ulang dengan tampilan baru. Superman lahir kembali dengan Superman Returns (Bryan Singer, 2006). Meski filmnya laris, banyak fans yang kecewa. Batman lain lagi. Batman Begins (2005) bikinan Christopher Nolan punya cerita kompleks tapi juga aksi menawan. Sukses itu kemudian berlanjut dengan The Dark Knight (2008). Musuh Batman, Joker (diperankan mendiang Heath Ledger) begitu tampil prima. The Dark Knight jadi puncak pencapaian genre ini. Ia jadi film superhero paling laris sepanjang masa. Di AS, film ini untung 533 juta dollar, nomor 2 di bawah Titanic. Dari peredaran global masuk urutan ke-4 dengan untung lebih dari 1 miliar dollar.

Musim panas tahun ini kita kembali menyaksikan Iron Man 2. Di bioskop kita, tengah rilis Kick-Ass yang berkisah tentang orang-orang tak punya kekuatan super tapi berlaga jadi pahlawan super. 

Saat ini Hollywood tengah sibuk mempersiapkan lanjutan The Dark Knight, Spider-man 4, Captain America, The X-Men 4, dan macam-macam cerita koleksi superhero mereka.  

Hollywood sudah membuktikan bisa untung besar dengan membuat film superhero. Makanya, mereka berani jor-joran dan tak berhenti membuat film jenis ini. Sutradara dan penulis skenario kelas atas direkrut. Para aktor pun tak berkecil hati berakting di film superhero karena kualitasnya makin bagus.

Sayangnya, demam membuat film superhero tak berimbas ke sini. Kita sudah tamat dengan  genre ini sejak awal 1980-an. Kini kita hanya puas jadi penonton, dikeruk uangnya agar produser di Hollywood sana makin kaya.

Tapi, benarkah sudah tamat? Atau, di luar sana ada yang sedang diam-diam menyiapkan Godam, versi baru Gundala, remake Sri Asih, dan Rama Superman Indonesia… 

*) Sebagian besar tulisan ini pernah dimuat di blog penulis dengan judul "Film Superhero: Dari "Sri Asih" sampai "The Dark Knight", pada 13 Oktober 2009.   

(ade/ade)

{JaThumbnail off}