Azis "Gagap", dari Panggung RT ke Layar Kaca


Azis "Gagap", dari Panggung RT ke Layar Kaca

Azis
TABLOIDBINTANG.COM -

Melalui program Opera Van Java (OVJ), kini orang kenal pelawak berjambul merah ini. Azis Gagap (37), bahkan identik dengan program tayangan Trans 7 ini. Bersama Sule, Parto, Andre Taulany, dan Nunung, chemistry mereka terjalin erat.

Baik Trans TV maupun Trans 7 kini sama-sama menampilkan Azis dalam berbagai acara in house mereka. Wajah Azis ada hampir setiap pagi saat Trans TV menayangkan program musik Derings. Begitu juga dengan program The Promotor yang menautkan Azis dengan Luna Maya. Trans 7 mulai menambah porsi Azis dan membuatkan program khusus buatnya, Beauty & Azis.

Bisa dibilang, kini Azis tengah di puncak kesuksesannya. Seiring dengan popularitasnya yang meroket, pundi-pundi pun menggembung. Awal tahun ini, Azis baru saja membeli kendaraan roda empat berjenis SUV yang akan mengantarnya ke lokasi syuting dan jalan-jalan bersama keluarga.

“Istilahnya, kalau dulu cuma dapat 10 perak, sekarang pendapatan bisa 20 sampai 30 perak. Kalau dulu makannya tempe, sekarang sudah bisa lebih baik,” ungkap Azis sambil tersenyum.

Tapi, di balik semua kesuksesan, Azis merasa belum menjadi seorang yang berhasil. Ia bahkan tak lama lagi akan mundur dari dunia hiburan yang membesarkannya. Apa sebabnya?

Dari Main Lenong Hingga Mengojek
Azis memulai kariernya di dunia lawak awal 1991. Kala itu, Azis, yang tidak memiliki pekerjaan tetap, menjajal kemampuan melucu di depan orang banyak. “Awal sekali saya mulai melawak pada 1991. Saat itu saya melawak dan bermain lenong,” ucap Azis yang asli Betawi ini.

Dari RT ke RT, hingga lintas kelurahan ia lakoni bersama grup lenongnya, Gaya Baru. Jangan tanya berapa penghasilan saat itu. “Waktu itu hanya sekitar 25 ribu rupiah saja. Paling besar 50 ribu rupiah. Tapi itu sudah besar sekali, bagi seorang pelenong,” kenang Azis.

Tapi kerja hingga dini hari membuat kondisi kesehatan Azis drop. Ia berhenti main lenong. Ia lantas bekerja bersama kontraktor bangunan. Jika sedang tidak ada order, Azis mengojek. Sesekali ia mencoba berdagang.

“Tapi, saya tidak bisa pungkiri hati saya tetap di dunia seni,” ujarnya.

Pada 1999, berdasarkan rujukan seorang teman, Azis mulai mendekatkan diri ke grup lawak Bagito, besutan Didin, Miing dan Unang. Tapi, jangan keburu menyimpulkan Azis bisa dengan mudah mendapat tempat di Bagito.

“Waktu itu saya belum main. Saya bertugas menarik penonton dan bagian ambil katering. Lumayan juga, saya bisa dapat 100 ribu rupiah dari kerja seperti itu,” kenangnya. Sedikit demi sedikit Azis mempelajari pola lawakan Bagito.

Suatu ketika, ia diajak menulis sebuah skenario lawakan untuk Bagito. Dari situ, ia mulai dilirik para personel Bagito. “Ketika Bagito bikin program Paviliun 21 di TVRI, saya diajak main. Saya sempat main beberapa kali di sana,” tuturnya.

Kala itu, ia belum memerankan seorang gagap. Bicaranya lancar, hingga seorang penulis skenario Bagito “mengaudisi” Azis untuk peran gagap. “Saya memainkan peran gagap hanya sekitar lima menit dan ternyata lucu. Sejak saat itu sampai sekarang, saya berperan gagap,” jelasnya.

Azis acap kali menjadi bintang tamu ketika Bagito manggung. Entah itu di stasiun TV maupun off air.  Dari Bagito pula Azis berkenalan dengan grup lawak lain, Patrio (Parto, Akrie, Eko).

“Waktu itu ada program sahur pertama kali di Trans TV. Saya, Bagito, dan Patrio main di sana. Saya jadi mengenal mereka,” bilang Azis. Azis pun main dengan Patrio. Terkadang ia melawak bersama Bagito, sesekali ia bermain dengan Patrio.

Menemukan Titik Terang
Akhir 2008 merupakan masa yang tidak akan dilupakan oleh Azis. Pada tahun itu, kariernya sebagai pelawak menemukan titik terang. “Saat itu saya sering diajak main di mana-mana. Di Global TV, Tawa Sutra-nya ANTV, hingga yang terakhir di OVJ,” tuturnya.

Azis memulai karier di OVJ benar-benar dari bawah, meski sudah tampil sejak pertama kali tayangan itu mengudara. “Saat itu saya hanya bintang tamu. Seminggu sampai dua minggu sekali saya dipanggil. Format OVJ pun saat itu masih berubah-ubah,” kisahnya.

Akhirnya, kekompakan Azis, Andre Taulany, Sule, dan Parto membuat OVJ menemukan format sejatinya. Azis pun didapuk menjadi pemain tetap menyusul Sule dan Parto.

(jul/gur)